Editor
Aris Asnawi | Rusman Madjulekka
Petani
Kawan atau Lawan?
Ali Syarif Lambang
S
ektor pertanian Indonesia telah
memberi kontribusi terhadap
perekonomian nasional.
Pertanian dapat dikatakan sebagai roda
penggerak perekonomian nasional.
Hampir 90 persen ekspor berasal dari
sektor ini (nonmigas). Pertanyaannya,
sudahkah petani kita sejahtera?
Sebagai anak petani, sedikit banyak
saya tahu prosesnya. Di desa saya
yang mayoritas petani, mereka yang
menanam sampai memanen pun masih
membeli beras juga. Selama ini saya
menilai petani kita seolah terabaikan. Padahal dari mereka yang telah
menyediakan kebutuhan pangan bagi jutaan penduduk negeri ini
selama puluhan tahun.
Banyaknya kebijakan dan program pangan dan pertanian yang
dicanangkan pemerintah seharusnya menjadi tanda keseriusan kita
untuk membenahi sektor ini, termasuk meningkatkan kesejahteraan
petani. Namun sayangnya, belum berjalan maksimal sesuai harapan.
Kebijakan pemerintah melakukan intervensi pasar, menurut saya,
merupakan pilihan politik yang sulit dihindari meski kebijakan tersebut
seringkali mengabaikan pengorbanan dan kesejahteraan petani.
Sampai-sampai muncul pertanyaan di tengah masyarakat: petani itu
kawan atau lawan?
Selama ini, petani merasa berusaha sendiri, mulai dari pencarian
lahan, pupuk, menghadapi kemungkinan gagal panen, hingga
penjualan hasil panen. Kondisi itu berpotensi memicu petani frustrasi.
Optimisme sebagai petani harus terus menerus di jaga agar pekerja
dalam sektor ini terus ada.
Ironisnya, ketika produktivitas petani menurun dengan berbagai
latar belakang, impor berbagai kebutuhan pangan sebagai solusi.
Inilah yang menyebabkan swasembada pangan di Indonesia
terus mengalami uktuasi, hingga berefek pada kurang stabilnya
perekonomian negara secara keseluruhan.
l
Intermedia Publishing 2018
Ali Syarif Lambang
Editor
Aris Asnawi | Rusman Madjulekka
Intermedia Publishing
2018
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
Lingkup Hak Cipta
Pasal 2:
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau
memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi
pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana
Pasal 72:
1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan
dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan
atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Petani
Kawan atau Lawan?
”... buku ini kupersembahkan kepada masyarakat petani
Indonesia.”
Petani, Kawan atau Lawan?
Oleh Ali Syarif Lambang
Editor:
Aris Asnawi | Rusman Madjulekka
@ Ali Syarif, 2018
Hak Cipta dilindungi undang-undang
Diterbitkan pertama kali oleh
Intermedia Publishing
Cetakan ke-1, 2018
xiv + 106 hlm; 15 x 21 cm
ISBN: 978-602-5414-85-5
Foto: Dok. Pribadi
vii
ALI SYARIF LAMBANG
Ali, Kegelisahan Anak
Petani
S
uatu hari, Ali Syarif Lambang duduk di bale-bale
rumah kecil petani sambil merenung dan memandangi
hamparan sawah yang hijau. Lama ia terdiam. Rona
wajahnya pun nampak tak secerah batang-batang padi yang tak
lama lagi panen itu. Apa gerangan yang mengusik pikirannya?
”Kapan yah... nasib baik berpihak kepada petani?” tanyanya
dalam hati.
Berangkat dari keprihatinan dan kegelisahan sebagai anak
petani yang dibesarkan di lingkungan keluarga petani, Ali
Syarif—begitu ia biasa disapa—tergerak untuk menuangkan
beberapa catatan dari pengalaman dirinya berkunjung dan
berinteraksi dengan para petani di Indonesia. Selain itu,
juga dukungan dari istri tercinta, Sriwahyuni Sunusi, yang
berasal dari Arasoe, Kabupaten Bone (Sulsel) yang juga lahir
dari keluarga petani, menjadikan dirinya semakin paham
seluk beluk, suka duka, dan potret kehidupan petani yang
Prolog
Petani
Kawan atau Lawan?
ixviii
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
sesungguhnya.
Banyak tanya, kritik, curhatan, opsi solusi alternatif,
dan sebagainya bercampur dalam jejak coretannya yang
melatarbelakangi pengusaha industri sarana produksi
pertanian ini dalam menghadirkan buku ini. ”Kok… makin hari
nasib petani kita masih belum beranjak jauh dari kata baik,
masih saja identik dengan kemiskinan?” ungkapnya beralasan
menulis buku.
Meski tak lagi jadi petani, namun karier ayah empat anak
kelahiran Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, tak
lepas dari sektor pertanian. Saat ini pria enerjik penyuka
belut ini berkecimpung di sebuah perusahaan agrokimia asal
Malaysia sebagai national sales manager.
l
Editor
Pengantar Penerbit
Melengkapi Buku
Pertanian
S
amudera terbentang luas seolah tak bertepi. Dibalik
birunya samudera terkandung ‘ladang’ kehidupan. Dan
berbagai profesi mewarnai pengabdian yang diapungkan
dalam samudera kehidupan manusia.
Beruntung dari sekian banyak orang yang mengabdikan
makna pengabdian tersebut terdapat sosok Ali Syarif yang
secara berkesinambungan memikirkan dan pengabdian kepada
petani.
Buku berjudul ”Petani, Kawan atau Lawan?” ini diterbitkan
melengkapi dan menambah khasanah buku-buku pertanian
untuk warisan generasi mendatang. Sudah menjadi ”bawaan
lahir” kebanyakan masyarakat yang tuna sejarah adalah kerap
membuat sebuah kebijakan yang tidak berpijak pada masa lalu
dan tidak berpandangan ke depan. Selamat membaca!
Penerbit
xi
ALI SYARIF LAMBANG
Petani
Kawan atau Lawan?
Kata Pengantar
A
li Syarif sebagai anak petani, merasakan kesulitan yang
dihadapi oleh orang tuanya sebagai petani padi, bercita-
cita untuk memperbaiki kehidupan petani. Pendidikan
strata 1 (2004) dan strata 2 (2007) diselesaikan sambil bekerja.
Sejak mulai bekerja setelah menamatkan SMK Pertanian di
Sidrap, terus menerus berinteraksi dengan petani. Berbagai
Provinsi dan Kabupaten menjadi wilayah kerjanya.
Bekerja di berbagai perusahaan pestisida awalnya sebagai
Field Assistant diperusahaan Ciba-Geiy dari 19921995,
berlanjut ke Novartis (Ciba-Geiy diakuisisi oleh Novartis) dari
19952001. Kemudian perusahaan Novartis diakuisisi oleh
Syngenta. Ali Syarif bekerja di Syngenta sampai dengan 2012.
Setelah itu, mendapat kesempatan sebagai National Sales
Manager pada PT Advansia Indotani dari 2012 sampai sekarang.
Hampir seluruh waktunya sebagai pekerja menawarkan
produk perlindungan tanaman terhadap gangguan hama
dan penyakit, juga selalu memperhatikan kehidupan petani.
Pengalaman kerja dan berkecimpung dengan petani membuat
resah di dalam dirinya, menorehkan pandangannya untuk
membuat petani lebih sejahtera.
Secara teoritis, Indonesia berada di wilayah tropis, potensi
tiga kali tanam padi setahun, sinar matahari tersedia 12 jam per
hari, air tersedia melimpah, seyoyanya petani dan produksi
padinya melebihi dari yang dibutuhkan. Petani seharusnya
dapat menjadi sejahtera.
xiiixii
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Berbagai aspek diungkap oleh Ali Syarif dalam buku yang
ditulisnya untuk mengenalkan pembaca betapa besarnya
variasi kehidupan yang menyangkut petani, terutama petani
padi. Diungkap juga saran/pendapatnya untuk membuat
Indonesia tidak lagi dikenal sebagai importir beras, dan
petaninya sejahtera.
Kritikan, saran, dan solusi yang diungkap dalam buku
ini penulis tidak membebankan semua jawaban untuk
mensejahterakan petani padi kepada Kementerian Pertanian,
diperlukan dukungan dan keberpihakan kepada petani oleh
Kementerian terkait.
Biaya produksi padi dinilai tidak sebanding dengan harga
yang diterima petani, perlu ada upaya serius semua pihak
terkait untuk bersinergi menurunkan biaya produksi dan
menetapkan harga yang layak.
Buku yang ditulis oleh Ali Syarif ini patut diacungi jempol,
memperkaya wawasan dalam pengembangan pertanian padi
di tanah air.
l
Mantan Dirjen Tanaman Pangan,
Dr. Ir. Farid Bahar MSc.
Buku yang ditulis oleh Ali Syarif ini
patut diacungi jempol, memperkaya
wawasan dalam pengembangan
pertanian padi di tanah air.
Daftar Isi
Prolog: Ali, Kegelisahan Anak Petani ...................................vii
Pengantar Penerbit: Melengkapi Buku Pertanian...................ix
Kata Pengantar ....................................................................xi
Daftar Isi ............................................................................ xiii
Meski Produksi Naik, Petani Tetap Miskin .............................. 1
Hasil Jerih Payah yang Tak Sepadan ....................................... 5
Harga Tinggi, Petani Buntung: Sebuah Ironi!......................... 9
Siklus Beban Hadang Petani ............................................... 15
Gairah Bertani Kian Redup .................................................25
Nawacita dan Kedaulatan Pangan ........................................ 31
Pedang Samurai ”Bermata Dua” ..........................................33
Dilema Petani, Kawan atau Lawan? ..................................... 41
Saprodi Digratiskan, Kenapa Tidak? .....................................47
BumDes dan Kemajuan Teknologi ....................................... 51
Petani Butuh Teknologi! ......................................................55
Daftar Isi
1xiv
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Meski Produksi Naik,
Petani Tetap Miskin
P
emerintah dewasa ini kian giat menggenjot berbagai
program untuk mendongkrak produksi pangan petani
agar terus naik. Untuk kegigihan tersebut, kita patut
memberikan apresiasi positif. Hanya saja, faktanya nasib petani
kita ternyata tak banyak berubah. Bahkan banyak petani di
Indonesia sulit membeli beras hasil panennya sendiri.
Hati kecil saya sebagai anak petani yang kini berkecimpung
di sektor industri pertanian, tentu saja miris melihat kondisi
tersebut. Tentu saja kita semua merasa prihatin terhadap
kondisi petani yang semakin susah untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Saya menilai hal tersebut sungguh ironis, karena di
sisi lain pemerintah begitu bersemangat untuk meningkatkan
produksi pangan.
Dengan mengutip data yang dirilis Serikat Petani Indonesia
(SPI) pada 2016 terungkap bahwa pendapatan petani rata-rata
per hari hanyalah sekitar 5.000 rupiah. Padahal dalam catatan
Kementerian Pertanian, setiap tahun sekitar 25 juta rumah
Mengurus Petani, Merawat NKRI ........................................ 61
Optimis Petani Bisa Sejahtera .............................................65
Wacana Opsi Beras Industri .................................................71
Kemadirian Petani, Kedaulatan Pangan ............................... 75
Petani Now dan Industri Kreatif ...........................................79
Petani Butuh Wujud ”Kehadiran” Negara .............................83
Program Kementan Perlu Dikawal .......................................89
Ayo Bertani! ........................................................................93
Bangga Jadi Petani ...............................................................97
Epilog: Catatan ”Pahlawan Pangan ...................................101
Tentang Penulis ................................................................ 103
Referensi .......................................................................... 106
32
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
tangga petani di Indonesia memproduksi pangan seperti padi,
jagung kedelai dan ubi dengan nilai sekitar 258 triliun rupiah.
Saya berpendapat, bahwa tidak selamanya pembangunan
di sektor pertanian itu menguntungkan bagi lingkungan dan
juga bagi petaninya sendiri, sekarang rantainya itu baru rantai
pasar. Buktinya, petani kita seringkali dihadapkan pada situasi
yang dilematis. Di mana mereka harus menjual hasil panennya
itu dengan harga sangat murah, dan ketika mau menanam ia
juga harus pinjam uang ke sana kemari hingga tak sedikit yang
”terbelit” bunga utang dari tengkulak.
TABEL: Daerah Lumbung Padi Nasional 2017/2018
Provinsi Produksi (ton) Persentase (%)
Jawa Timur 13,12 jt 16,1
Jawa Barat 13,52 jt 15,38
Jawa Tengah 11,42 jt 14
Sulawesi Selatan 6,2 jt 7
Sumber: BPS
Selain itu, menurut saya, pemerintah kurang agresif
membimbing para petani agar lebih mampu melakukan inovasi.
Dan ini, sesungguhnya menjadi penyebab mengapa hasil para
petani terkesan monoton, kurang diminati dan mereka terjebak
dalam siklus pemasaran yang membuat mereka tak berdaya.
Pada sisi lain, kebijakan pemerintah untuk melakukan impor
berbagai komoditas pangan menurut saya juga merupakan
langkah yang terburu-buru dan panik. Kita sudah tahu, selama
ini kebijakan impor hanya menguntungkan para importir
dan sangat merugikan para petani karena hasil tanamannya
terganggu oleh keberadaan komoditas impor.
Berbeda halnya kalau di luar negeri. Antara impor dengan
DOK.PRIBADI
Kegembiraan petani jelang panen,berkumpul bersama untuk merayakan pesta panen.
DOK.PRIBADI
54
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
grower (jadi) satu, jadi impor itu harusnya menurun sepanjang
masa. Kemudian pertumbuhan produksi dalam negeri harus
naik terus-menerus sehingga pada akhirnya di satu titik kita
bisa menjadi eksportir bukan malah sebaliknya.
l
Kita semua merasa prihatin terhadap
kondisi petani yang semakin susah
untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari. Hal tersebut sungguh ironis.
Hasil Jerih Payah yang
Tak Sepadan
R
endahnya harga Gabah Kering Panen (GKP) diakibatkan
beberapa faktor antara lain petani memasuki musim
panen raya yang biasanya terjadi pada Maret hingga Mei.
Kemudian, penggilingan padi (PP) terutama penggilingan padi
besar (PPB) cenderung enggan membeli gabah dalam jumlah
besar.
Sementara di satu sisi pemerintah berasumsi bahwa harga
beras tinggi karena akibat biaya produksi dan distribusi yang
tinggi serta permainan para pengusaha PPB tersebut.
Harga GKP terus merosot, terutama sentra produsen
terutama di pulau Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan
Sulawesi Selatan di kawasan timur Indonesia (KTI).
Dengan harga GKP di bawah harga Rp 4.600 per kilogram,
menurut saya, dipastikan para petani menderita kerugian
karena mereka hanya mampu menutupi biaya produksi dari
tanam hingga panen. Dengan kata lain, artinya tak sepadan
antara risiko yang diterima dengan jerih payah petani membuat
76
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Pemeliharaan dan perawatan tanaman dari serangan Organisme Pengganggu Tanaman
(OPT) untuk mengurangi risiko gagal panen.
beras tidaklah semudah yang kita bayangkan, beberapa tahapan
yang dilakukan oleh petani di awali dengan pengolahan Tanah
dengan mekanisasi.
Selanjutnya adalah pembibitan untuk tanam pindah
dan hambur/tanam benih langsung semuanya memerlukan
pemilihan bibit/benih unggul, pemupukan yang baik sesuai
anjuran karena pupuk merupakan salah satu syarat mutlak
untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pemeliharaan
tanaman dari gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT)
antara lain adalah gulma yang mengganggu pertumbuhan
tanaman, hama dan penyakit yang sewaktu-waktu akan
menyerang tanaman mulai dari awal tanam hingga menjelang
panen yang akan mengancam terjadinya gagal panen,, semua
ini dilakukan oleh petani kisaran antara 34 bulan ,jerih payah
membuat beras sering kali petani patah semangat ketika panen
tiba namun harga jual mereka anjlok.
Padahal, menurut saya, sejatinya harga GKP saat musim
panen raya berkisar di atas Rp 6,500 per kilogram, dan itu
pun hanya selisih sedikit di atas angka Break Event Point (BEP)
mereka.
l
Dengan kata lain, tak sepadan antara
risiko dan jerih payah petani.
9
ALI SYARIF LAMBANG
Harga Tinggi, Petani
Buntung: Sebuah Ironi!
B
erdasarkan pemantauan dan laporan yang kami terima
dari lapangan, tingginya harga beras yang tembus sampai
Rp 11 ribu/kg hingga 13 ribu/kg di pasar beberapa daerah
di Indonesia rupanya tidak serta merta memberi keuntungan
besar kepada petani. Pasalnya, penyebabnya karena pada
dasarnya sebagian besar petani juga merupakan konsumen
beras.
Paling hanya sedikit yang disimpan untuk konsumsi. Setelah
stok gabah habis, mereka (petani, red) menjadi konsumen
beras seperti masyarakat pada umumnya.
Selama ini, bila musim panen petani tiba maka mereka akan
menjual gabah kepada tengkulak. Namun, yang terjadi adalah
masih banyak petani yang tidak membawa pulang gabahnya
untuk kemudian dijual lagi. Yah, begitulah potret keadaan
petani kita saat ini yang serba sulit. Saat akan musim tanam
mereka dihadapkan dengan modal yang tidak sedikit.
Memang secara alamiah, imbas dari kenaikan harga beras
Petani
Kawan atau Lawan?
1110
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
justru telah memberi keuntungan lebih kepada pedagang
bukanlah petani. Selain itu juga, selama ini solusi dari
pemerintah adalah hanya dengan mengandalkan melakukan
operasi pasar (OP) dengan menggunakan stok beras Bulog.
Dalam hal ini, nasib petani seolah terabaikan. Itu karena,
solusi pemerintah untuk menaikan harga beras lebih melihat
produksi padi yang turun akibat musim hujan berkepanjangan.
Sementara, nanti kalau musim kemarau, harga beras naik juga
dikatakan akibat kemarau panjang. Kenapa pemerintah tak
mau jujur saja, katakan bahwa harga beras naik karena banyak
petani gagal panen dan paceklik?
TABEL: Biaya Produksi Padi Indonesia (Rp/Kg)
Negara Biaya Sewa Tanah Biaya Buruh Lepas
Vietnam 1.679 387 120
Thailand 2.291 481 172
Filipina 3.224 549 987
Tiongkok 3.661 988 127
Indonesia 4.079 1.719 1.115
Sumber: Katadata 2017
Padahal, pada kondisi tertentu, para petani tidak menuntut
agar selalu dihargai tinggi. Mereka pun hanya mengharapkan
agar bisa diberikan program asuransi gagal panen petani.
Program yang telah diluncurkan oleh Kementerian Pertanian
patut kita apresiasi, namun tidak tersosialisasi dengan baik
sehingga banyak petani hanya berpasrah saja. Minimal, pada
saat musim panen harga padi tidak jatuh. Sehingga, petani
pun dapat memperoleh kembali modal. Beruntung jika
Musyawarah Kelompok
dalam mengambil
keputusan dalam
menentukan jadwal
tanam
DOK. PRIBADI
1312
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
mendapatkan sedikit keuntungan.
Ada yang bertanya kepada saya, mengapa gagal panen?
Saya jawab sederhana, sebab belum maksimal upaya dari
pemerintah untuk mencegah petani gagal panen. Seharusnya
Pemerintah saat ini, bisa melakukan terobosan yang baru
seperti membuat resi gudang yang bermanfaat membantu
petani meyimpan padi saat panen. Sehingga, petani tidak
menjual semua padi yang ada saat panen. Resi gudang itu
berguna untuk petani menabung beras, saat musim paceklik
petani bisa mengambil beras yang disimpan di resi gudang
yang dikelola oleh pemerintah dan pihak ketiga. Jadi, jangan
salahkan musim lagi dong!
Resi gudang untuk menolong petani sesungguhnya sudah
pernah ada, diadakan oleh Kemendag. Namun sayang sekali,
gudang, dryer, bangunan bagus, tidak semuanya berfungsi.
Kemungkinan tidak menarik bagi petani, atau birokrasi dari
pengelola membuat petani tidak memanfaatkan. pendapat
saya hal-hal yang pernah ada dan dinilai baik bukan di
hentikan tetapi di evaluasi keberadaannya dan diselesaikan
masalahnya sehingga resi gudang ini tetap ada karena bisa jadi
penempatannya tidak pada petani yang tepat.
l
Tingginya harga beras di pasar
beberapa daerah di Indonesia
rupanya tidak serta merta memberi
keuntungan besar kepada petani.
Gulma Tanaman Padi pada umumnya:
15
ALI SYARIF LAMBANG
Siklus Beban Hadang
Petani
P
etani adalah seseorang yang bergerak di bidang pertanian,
utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah
dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara
tanaman (seperti padi, bunga, buah dan lain-lain) dengan
harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk
digunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain.
Mereka juga dapat menyediakan bahan mentah bagi industri.
Setiap orang bisa menjadi petani (asalkan punya sebidang
tanah atau lebih), walau ia sudah punya pekerjaan bukan
sebagai petani. Maksud dari kalimat tersebut bukan berarti
pemilik tanah harus mencangkul atau mengolah sendiri tanah
miliknya, tetapi bisa bekerja sama dengan petani tulen untuk
bercocok tanam di tanah pertanian miliknya. Apabila ini
diterapkan, berarti pemilik tanah itu telah memberi pekerjaan
kepada orang lain walau hasilnya tidak banyak. Apabila
bermaksud mengolah sendiri, tentu harus benar-benar bisa
membagi waktu, tetapi kemungkinan akan kesulitan kalau
Petani
Kawan atau Lawan?
1716
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
tanahnya lebih dari satu petak.
Sejak dulu, berdasarkan literatur yang ada, di negara miskin
atau kebudayaan pra-industri, kebanyakan petani melakukan
pertanian subsistem, sebuah sistem pertanian organik yang
mendayagunakan rotasi tanaman, penyisihan benih, tebang
dan bakar, atau metode lainnya.
Sedangkan dinegara maju, petani memiliki sebidang lahan
yang luas dan pembudidayaan dilakukan dengan memanfaatkan
mesin pertanian untuk mendapatkan eisiensi tinggi. Dengan
menggunakan mesin, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan
menjadi jauh berkurang.
Lalu, jejak petani di Indonesia tidak berjalan mulus.
Berbagai masalah menghadangnya. Setelah saya mencoba
mengidentiikasi, adapun problema yang kerap dialami petani
sebagai berikut:
1. Petani masih sering kesulitan mendapatkan pupuk pada
saat diperlukan. Selama ini boleh kita bilang bahwa
persoalan pupuk merupakan kebutuhan utama dalam
peningkatan produksi petani. Dan pemerintah telah
berbagai macam cara yang dilakukan dalam memenuhi
kebutuhan petani baik pemerintah pusat maupun daerah,
sehingga dari tahun ke tahun terus ada perbaikan dan
semakin baik. Hanya saja pengelolaan dan perencanaan
di daerah yang masih sering terkendala karena kurangnya
perhatian pemerintah terhadap masalah pupuk ini.
Berkaitan dengan hal tersebut, saya menawarkan solusi
dengan pemerintah, dalam hal ini pemerintah daerah
harus ”menggandeng” produsen pupuk tanah air dan
memberikan kemudahan dalam pembangunan gudang
penyimpanan pupuk setiap musim yang disesuaikan
kebutuhan lahan petani di daerahnya. Selain itu,
memberdayakan aset lokal berupa sumber daya manusia
(SDM) yang mampu menciptakan produk lokal seperti
pupuk cair/pupuk organik sebagai alternatif ketika terjadi
kelangkaan pupuk.
2. Yang kedua adalah masalah Saprodi (sarana produksi)
seperti pestisida. Pasalnya, seringkali pada saat
ada serangan hama dan penyakit, petani kesulitan
mengatasinya. Masalah OPT (Organisme Penggangu
Tanaman) pada tanaman, khususnya tanaman padi,
adalah masalah selalu muncul setiap musim. Selama
ini, menurut saya, kesadaran mereka memilih beni/
bibit unggul menunjukkan bahwa petani kita sebenarnya
termasuk petani yang maju. Hanya saja mereka seringkali
kesulitan pada saat membeli pupuk dan pestisida
sebagai sarana merawat tanaman dengan baik dalam
mengantisipasi serangan OPT. Oleh karena itu, saya
menawarkan solusi di mana petani kita harus dipandang
sebagai aset bangsa terpenting dalam kehidupan. Sebab
pangan terutama beras adalah makanan pokok di negara
ini. Oleh karena itu sangat layak jika pemerintah mulai
berpikir agar kebutuhan pupuk dan pestisida bagi petani
menjadi tanggung jawab pemerintah.
3. Selanjutnya adalah tidak maksimalnya informasi
yang cepat dan fasilitas tempat belajar bagi petani.
Masalah tempat belajar bagi petani di beberapa daerah
seharusnya tidak terjadi karena sudah ada beberapa
sekolah menengah khusus pertanian. Selain itu, produsen
perbenihan juga sudah tersedia di beberapa tempat dari
pihak Sanghyang Seri dan Pertani. Dalam kaitan ini, saya
mengajak Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP),
melibatkan sekolah pertanian yang ada di daerah untuk
1918
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
DOK.PRIBADI
Para anggota komunitas petani padi produksi 10 ton ( Koppast) antusias mengikuti
pemaparan dari Ali Syarif sebagai pembina cara ”Pemeliaharaan Tanaman Padi dari
Tanam sampai Panen”
Makan bersama
selepas kerja di sawah,
menunjukkan budaya
gotong-royong masih
kuat terjaga.
melakukan pendampingan demonstrasi full teknologi
dengan bekerja sama Dinas Pertanian setempat dengan
komoditas sesuai potensi masing-masing wilayah. Dengan
begitu, diharapkan petani dapat dengan mudah belajar
langsung dan mengikuti setiap perkembangan dalam
bidang pertanian sehingga menghasilakan produksi yang
maksimal.
4. Selama ini saya amati, biaya operasional penyuluh masih
terbilang rendah, sehingga masih banyak penyuluh
pertanian tidak berfokus melakukan pembinaan terhadap
petani. Padahal keberadaan penyuluh pertanian di tanah
air telah membawa perubahan besar terhadap kemajuan
petani kita. Berkat penyuluh pertanian, informasi telah
tersampaikan kepada petani baik dalam hal budidaya
maupun teknologi baru. Misalnya, pada penggunaan
pupuk masih teringat oleh kita di 40 tahun silam
penggunaan pupuk telah banyak penolakan oleh para
petani karena dianggap merusak tanah. Namun karena
kegigihan penyuluh pertanian yang pada waktu itu
disebut Bimas pertanian yang akhirnya pupuk menjadi
kebutuhan utama bagi petani sampai saat ini. Meskipun
demikian, kian hari saya menilai keberadaan penyuluh
pertanian seakan dipandang sebelah mata sebagai aset
daerah. Padahal, kalau mau jujur, keberadaan mereka
dapat berkontribusi terhadap kemajuan daerah melalui
sector pertanian. Oleh karena itu, menurut saya tenaga
penyuluh harus diberdayakan secara maksimal sebagai
”jembatan informasi” terhadap perkembangan teknologi
dalam bidang pertanian dengan terus memberikan
kesempatan belajar ke luar jika perlu ke luar negeri
pada negara-negara maju pertaniannya. Dan tentu saja
2120
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
perbaikan fasilitas dan kesejahteraan penyuluh tetap jadi
perhatian pemerintah.
5. Masih terdapat sebagian lahan pertanian kita
mengandalkan air hujan karena tidak terjangkau irigasi
teknis. Berkaitan hal itu, saya menawarkan solusi saluran
irigasi yang ada saat ini digali dan diperlebar dengan
dinding dan lantai beton serta dibuatkan pintu air setiap
jarak tertentu yang bertujuan untuk menampung air
pada saat turun hujan. Dengan begitu, pada saat musim
kemarau air tersebut dapat digunakan untuk membantu
pertumbuhan tanaman sampai panen karena pada
dasarnya tanaman padi bukanlah tanaman air tetapi
tanaman yang membutuhkan air. Dan opsi ini telah
diterapkan di beberapa daerah, seperti di daerah ujung
timur Indonesia, Merauke Provinsi Papua. Di samping itu
solusi lain, di mana air danau dapat dimanfaatkan, selama
ini air danau adalah air yang menganggur dalam waktu
yang cukup lama padahal merupakan air tumpahan
yang terbuang melewati sawah-sawah pada saat awal
pengolahan tanah dengan jumlah air yang berlebihan
dan ini banyak di beberapa daerah. Padahal pada waktu
tertentu tanaman sangat membutuhkan serapan sedikit
air untuk menggapai panen namun kemarau keburu tiba
terutama pada lahan-lahan tadah hujan dipompa ke atas
dengan mesin pompa teknologi PDAM dengan kapasitas
yang lebih besar untuk disuplai ke hulu saluran irigasi dan
disalurkan ke petak-petak sawah pada saat dibutuhkan.
Namun yang pasti, saya berpendapat, tawaran opsi solusi
tersebut hanya dapat berjalan jika ada keterlibatan dan
keseriusan pemerintah dengan konsisten berfokus pada
sektor pertanian sebagai sumber penghasilan utama
masyarakat kita.
6. Semakin menurunnya motivasi bagi pemuda/remaja
terlibat dalam usaha tani, karena bertani dianggap
pekerjaan rendahan. Pemuda merupakan tulang
punggung daerah, sementara daya tarik menjadi petani
masih menjadi masalah bagi para sarjana pertanian/
pemuda tani dewasa ini. Oleh karena itu, saya berpendapat
solusi yang bisa ditawarkan adalah dengan mendorong
pertanian mekanisasi dan modern. Selain itu, menjadikan
pertanian sebagai usaha yang menguntungkan dan
bergengsi dengan teknologi bertaraf internasional. Nah,
dengan perubahan kondisi seperti itu, maka pemuda dan
para sarjana menjadikan bertani sebagai pekerjaan yang
membanggakan.
7. Kurangnya pengendalian dalam menjaga stabilitas harga
pada saat panen raya, sehingga petani sering mengalami
kerugian karena hasil panen tidak dapat menutupi biaya
yang dikeluarkan. Dalam konteksi ini, saya menilai belum
maksimalnya keberpihakan pemerintah. Selama ini, harga
hasil panen petani merupakan harapan terakhir dalam
meraup keuntungan, namun yang sering terjadi adalah
nilai jual hasil mereka lebih rendah daripada biaya produksi
yang dikeluarkan selama mulai tanam, pemeliharaan
sampai panen terutama petani padi terkhusus petani
penggarap. Terhadap persoalan ini, saya melihat biaya
produksi adalah alasan utama meruginya petani. Oleh
karena itu, jalan keluarnya menurut saya pemerintah
harus berani menjamin modal usaha terutama sarana
dan prasarana dalam kata lain biaya pemeliharaan yang
digunakan mulai tanam sampai panen yaitu pupuk dan
pestisida (sekitar Rp 3 juta/ha).
2322
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
8. Kontrol pemerintah terhadap bantuan pusat untuk petani
kurang maksimal, sehingga sering terjadi salah sasaran
atau salah dalam peruntukannya. Saya berpendapat
harus disediakan kartu dengan misalnya namanya
kartu PROtani (secara elektronik) yang dipegang oleh
petani sebagai kartu cerdas dalam usaha tani dan
setiap kartu terisi saldo Rp.3 juta sebagai modal usaha
dalam pemeliharaan tanaman dari tanam sampai panen
biaya sejumlah tersebut hanya sekali seumur hidupnya
karena pada dasarnya di biayai adalah lahan sehingga
Rp 3 juta hanyalah merupakan jaminan gagal panen
artinya jika mereka panen sesuai tentu modal usaha
ini akan dikembalikan untuk kebutuhan pada musim
berikutnya. Dengan demikian dana yang diperuntuhkan
untuk menghasilkan beras dapat digunakan sebagaimana
mestinya.
9. Kesulitan petani untuk mendapatkan kredit dan biaya
usaha tani, karena belum terbentuk badan khusus
sebagai penjamin dalam pembiayaan oleh pihak bank.
Saya kira kartu tani, entah istilah/namanya apa, yang
bersifat elektronik bisa menjadi salahsatu solusi terdapat
permasalahan kebutuhan kredit atapun biaya usaha bagi
petani kita.
l
Pemerintah harus berani menjamin
modal usaha terutama sarana dan
prasarana yang digunakan mulai tanam
sampai panen (sekitar Rp 3 juta/ha).
Aktivitas religius bersama petani di pelosok desa.
DOK. PRIBADI
DOK. PRIBADI
25
ALI SYARIF LAMBANG
Gairah Bertani Kian Redup
D
alam beberapa kesempatan keliling di berbagai sentra
pertanian di Indonesia, saya bertemu dan berbincang
langsung dengan beberapa petani. Wajah polos penuh
keceriaan tak bisa menutupi usia mereka yang sudah lanjut.
Apa sih cita-cata dan harapan Bapak kedepan?” tanya saya
ke Ngadino, seorang petani di Karangrejo, Jember, Jawa Timur,
pertengahan Maret 2018.
”Saya ingin kerja keras supaya anak-anak bisa sekolah
sampai sarjana agar nanti kelak nasibnya tidak seperti orang
tuanya (petani, red),” ujarnya.
Harapan Ngadino tersebut hampir sama dengan rata-
rata pengakuan dan jawaban petani di daerah lainnya. Saya
seketika terdiam dan pikiran menerawang membayangkan
jika semua petani mempunyai harapan demikian maka bukan
tidak mungkin dalam waktu tertentu kelak nanti negeri ini akan
kesulitan tenaga kerja untuk profesi bertani. Berbeda halnya
dengan harapan atau motivasi para pengusaha terhadap anak-
anaknya yang disekolahkan sampai sarjana agar kelak dapat
melanjutkan usaha orang tuanya.
Petani
Kawan atau Lawan?
2726
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Situasi dan kondisi tenaga kerja sektor pertanian saat ini
sungguh sangat berbeda dengan yang pernah saya alami. Dulu,
pada saat usia saya masih kelas 4 SD, sudah mulai turun ke
sawah membantu Ambo ku (bahasa Bugis artinya Ayah).
Dengan kerja keras berpeluh keringat di sawah, cita-citaku
bersekolah tak redup. Setamat SMP, tekadku ketika itu ingin
melanjutkan pendidikan di sekolah pertanian yang bernama
Sekolah Menengah Teknologi Pertanian (SMTP) di Ciro-ciroE
yang sekarang dikenal dengan sekolah SMK Negeri 3 Watang
Pulu di kabupatan Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi
Selatan.
Di pikiran saya ketika itu, adalah hanya ingin memperdalam
pengetahuan tentang cara bertani atau bercocok tanam dengan
baik khususnya tanaman padi dengan harapan agar Ambo ku
dapat bertani dengan baik dari cara yang tradisional kepada
cara dengan perkembangan teknologi. Namun Allah SWT
berkehendak lain, belum sempat ilmu tersebut diterapkan,
Ambo ku terlebih dahulu dipanggil yang Maha Kuasa.
Berdasarkan fakta dan realitas yang saya temukan di lapangan
tersebut, agaknya kekuatiran saya semakin berkurangnya
tenaga kerja yang bertani cukup beralasan. Bahkan data dari
Badan Pusat Statistik (BPS) telah menunjukkan jumlah tenaga
kerja di sektor pertanian setiap tahunnya mengalami tren
penurunan.
Sejak beberapa tahun terakhir, BPS mencatat jumlah
penduduk yang bekerja di sektor pertanian terus mengalami
penurunan. Penurunan serapan tenaga kerja sektor pertanian
yang signiikan berdasarkan data BPS terjadi sejak 2008 hingga
2017 dengan rata-rata 33,51 persen, disusul perdagangan 22,54
persen, jasa 16,54 persen, dan sektor industri 13,12 persen.
Dari segi jumlah penurunan angka penyerapan tenaga
kerja di sektor pertanian tersebut, BPS mencatat awal 2013
sekitar 39,96 juta orang. Angka itu mengalami penurunan
dibandingkan dengan jumlah pada awal 2012 sebesar 41,2 juta
orang.
Data BPS lainnya menunjukkan sebanyak 128,06 juta
penduduk Indonesia adalah angkatan kerja, jumlahnya
bertambah 2,62 juta orang dari Agustus 2016. Sejalan dengan
itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat
0,33 poin. Dalam setahun terakhir, pengangguran bertambah
10 ribu orang, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka
(TPT) turun sebesar 0,11 poin. Dilihat dari tingkat pendidikan,
TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) paling tinggi
diantara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 11,41 persen.
Sejak beberapa tahun terakhir,
BPS mencatat jumlah penduduk
yang bekerja di sektor pertanian
terus mengalami penurunan.
Penduduk yang bekerja sebanyak 121,02 juta orang,
bertambah 2,61 juta orang dari Agustus 2016. Sektor-sektor
yang mengalami peningkatan persentase penduduk yang
bekerja terutama pada sektor Industri (0,93 poin), sektor
Perdagangan (0,74poin), dan Sektor Jasa Kemasyarakatan (0,49
poin). Sementara sektor-sektor yang mengalami penurunan
adalah sektor Pertanian (2,21 poin), sektor Pertambangan (0,10
poin), dan Sektor Konstruksi (0,01 poin).
28
PETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Saya memperkirakan terjadinya penurunan angka tenaga
kerja di sektor pertanian tersebut tak lepas dari maraknya
konversi lahan pertanian di daerah produktif atau sentra
lumbung padi selama ini. Khusus untuk Pulau Jawa, daerah-
daerah produktif meliputi pantai utara Jawa maupun pantai
selatan Jawa. Konversi tersebut terlihat dari sawah yang
dimatangkan, kemudian dijadikan pabrik. Nah, tentu saja tak
ada lagi kegiatan pertanian di daerah itu.
Selain akibat konversi lahan, menurut saya, faktor besaran
upah yang lebih menarik dari sektor lain seperti konstruksi
atau perdagangan yang berdampak pada penurunan minat
tenaga kerja bertani di daerah.
l
31
ALI SYARIF LAMBANG
Nawacita dan Kedaulatan
Pangan
B
aru-baru ini kita dihebohkan dengan berita dan
kontroversi di masyarakat, bahwa kenaikan harga beras
yang diikuti dengan keputusan impor hingga 500.000
ton, merupakan indikator rapuhnya ketahanan pangan
nasional. Padahal, data Kementerian Pertanian (Kementan)
mengungkapkan produksi padi 2017 mengalami peningkatan
menjadi 81,38 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dari 79,17 juta
ton di 2016. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengklaim
tidak ada impor selama dua tahun terakhir.
Sementara laporan Kementerian Perdagangan dan BPS
menunjukkan, pemerintah masih melakukan impor pangan
dalam jumlah yang signiikan pada 2017 dan tahun berikutnya.
Menurut saya, kedaulatan pangan sering dijadikan
legitimasi bahwa impor pangan menjadi salah satu jalan untuk
menyediakan cadangan pangan atau agar krisis pangan teratasi.
Bukan soal dari mana padi itu diproduksi untuk memastikan
cadangan pangan. Soal produksi dari mana itu, bukan konsensi
Petani
Kawan atau Lawan?
3332
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
pemerintah saat ini.
Pemerintahan saat ini memang menempatkan Reforma
Agraria dalam skema pembangunan prioritas yang dikemas
dalam program Nawa Cita. Salah satunya adalah kedaulatan
pangan.
Saya menilai, program dengan tema kedaulatan pangan
telah cenderung ”menyimpang” dan tidak sesuai dengan
prinsip-prinsip dan hakikat kedaulatan pangan. Program yang
dijalankan tak ubahnya adalah ketahanan pangan yang dikemas
dengan slogan kedaulatan pangan.
Tanpa adanya upaya politik taktis yang
mendasar dan strategis, impian perubahan
kesejahteraan petani hanyalah ilusi.
Data yang dikutip dari Institute for Development of Economics
and Finance (Indef) menunjukkan realitas bahwa dibukanya
impor 500 ribu ton beras membuktikan bahwa data yang selama
ini dimiliki pemerintah terkait produksi padi tidak kredibel. Ini
menunjukkan tidak terkoneksinya antara kebijakan kementrian
pertanian dan kementrian lain yang terkait.
Oleh karena itu,, tanpa adanya upaya politik taktis yang
mendasar dan strategis maka impian perubahan kesejahteraan
petani hanyalah ilusi. Persoalan ini juga mencerminkan
kegagalan konsep pangan nasional yang menjadikan
swasembada sebagai tolok ukurnya. Reformasi pangan menjadi
keniscayaan bagi petani yang menggantungkan nasib dan
hidupnya di negara agraris, seperti Indonesia.
l
Pedang Samurai
”Bermata Dua”
I
ntervensi pemerintah sejak 2017 dengan membentuk satuan
tugas atau ”Satgas Pangan” dengan melibatkan personil
Pamong Praja (PP), Polisi dan TNI menjadi ”momok”
tersendiri, bahkan cenderung menjadi musuh bagi kalangan
Petani. Pasalnya, dengan pelarangan penjualan gabah keluar
daerah atau pasar bebas membuat pengusaha ketakutan dan
trauma membeli gabah petani dalam jumlah banyak.
Belum lagi, satgas pangan tersebut terkesan ”memaksa
pengusaha penggilingan menjual gabah kepada Bulog yang
harga pembeliannya jauh dibawah harga pasar bebas.
Sementara itu pada saat musim panen gadu atau paceklik,
idealnya petani menikmati harga tinggi, tapi pemerintah
melalui mekanisme Bulog buka pintu gudangnya dengan
melakukan operasi pasar dan impor beras sesungguhnya
tidak perlu, karena produksi dalam negeri cukup. Akibat
impor beras, keuntungan petani menjadi rendah, petani tidak
akan menggunakan teknologi anjuran. Pemerintah mengukur
3534
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Presentasi di hadapan pelaku usaha pertanian tingkat nasional bertempat di ICE BSD City,
Tangerang, Banten
adanya stok beras dari gudang Bulog, sedangkan Bulog belum
bekerja eisien. Impor beras baru-baru ini adalah perbuatan
korupsi, melanggar ketentuan resmi, karena marginnya besar.
Beras yang diimpor dijual dengan harga dumping, stoknya
masih banyak, akan panen dimana lagi beras harus disimpan.
Hal ini sama dengan komoditas lain. Majunya produksi jagung
karena dilarang impor, dan ada harga dasar yang baik bagi
petani. Inipun, Bulog tidak bisa beli karena birokrasinya tidak
eisien.
Bahkan, yang lebih ekstrim lagi ada daerah yang melarang
petaninya menjual gabah ke PPB tanpa ada surat izin berupa
rekomendasi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui
Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Dinas Perdagangan
setempat.
Dengan adanya kebijakan seperti itu, maka mau tak
mau dengan terpaksa petani menjual gabah ke pengusaha
penggilingan kecil yang dipahami memiliki keterbatasan
modal dan infrastruktur penggilingannya terbatas. Langkah
yang diambil itu, menekan harga karena petani selain tidak
punya tempat penjemuran dan penampungan serta berbagai
kebutuhan mendesak memaksa petani menjual murah
gabahnya.
Penunjukan bolug sebagai perpanjangan tangan pemerintah
dalam menampung hasil panen petani adalah langkah yang
cerdas hanya saja perlu dipertimbangkan biaya produksi
petani yang dikeluarkan dari tanam sampai panen agar petani
tidak merugi dengan patokan HET.
Dengan berangkat dari kondisi realitas yang terjadi di
lapangan tersebut, menurut saya jika Bulog menjadi satu-
satunya tumpuan penyerapan gabah dan penjualan beras
yang juga kapasitas daya tampungnya terbatas, maka cita-cita
3736
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia khususnya Petani
sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 hanya
”pepesan kosong” atau mimpi di siang bolong dan derita
petani sepanjang hayat dikandung badan.
Selama ini, saya menilai kebijakan pemerintah terhadap
komoditas gabah/beras ibarat ”pedang samurai” bermata dua.
Di satu sisi, gabah/beras selain jadi komoditas pertanian juga
di sisi lain telah mengalami transformasi menjelma menjadi
”komoditas politik” yang jadi ”rebutan” para elite dan penguasa
negeri ini. Apalagi, ketersediaan dan keterjangkauan harganya
menjadi ”pengaman” bagi rezim yang berkuasa.
Kebijakan pemerintah melakukan intervensi pasar, hemat
saya, merupakan pilihan politik yang sulit dihindari meski
kebijakan tersebut seringkali mengabaikan pengorbanan dan
kesejahteraan petani. Sampai-sampai muncul pertanyaan
ditengah masyarakat: Petani, Kawan atau Lawan?
Gabah/beras selain jadi komoditas
pertanian juga di sisi lain ”komoditas
politik” yang jadi ”rebutan
para elite dan penguasa.
Sejatinya pemerintah memperhatikan hal-hal yang tidak
merugikan petani langsung (direct) atau tidak langsung
(indirect) seperti ”menggiring” tujuan kebijakan beras nasional
untuk menurunkan inflasi pangan sebagai tujuan sentral.
“Satgas Pangan dibentuk Pemerintah untuk menjamin stok
tidak dikuasai sepenuhnya oleh swasta. Stok ditahan, terjadi
kenaikan harga. Cara ini dilakukan untuk memaksa Pemerintah
mengeluarkan izin impor beras. Sama seperti komoditas lain.
Sayangnya, Bulog yang diberi tugas oleh Pemerintah belum
bekerja eisien. Kenapa Bulog tidak membeli dryer besar, beli
gabah kering panen dan dikeringkan, gabah dapat disimpan
lama. Perbesar stok atau cadangan beras Pemerintah.
Menurut saya, keberadaan ”satgas pangan” perlu
dipertimbangkan untuk dievaluasi karena memicu terjadinya
distorsi harga pasar yang merugikan petani serta membuat
pengusaha penggilingan ketakutan dan trauma.
Empat Alasan Revisi Kebijakan
1. Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) relatif dpasar formal seperti di
swalayan yang di suplai PPB.
2. HET perlu ditata ulang berdasarkan hasil riset yang komprehensif
menyeluruh.
3. Perlu ada regulasi terkait pasar. Jika BBM dan lainnya ada pasar
khusus, kenapa beras jenis dan kualitasnya tertentu juga spesial untuk
kebutuhan pekerja industri.
4. Bulog sebagai penyangga utama harus mampu menyerap gabah/
beras lebih banyak terutama disaat musim panen raya agar stabilitas
harga dan petani tak merugi.
Mencermati fakta dan realitas tersebut di atas, saya
menawarkan saran dan alternatif solusi antara lain: Penetapan
Harga Eceran Tertinggi (HET) relatif di pasar formal seperti
di swalayan yang di suplai PPB. Lalu HET perlu ditata ulang
berdasarkan hasil riset yang komprehensif menyeluruh.
Selain itu, hemat kami, perlu ada regulasi terkait pasar.
Jika Bahan Bakar Minyak (BBM) dan lainnya ada pasar khusus,
kenapa beras yang merupakan perasan keringat anak bangsa
tidak diberi regulasi yang sama, misalnya jenis dan kualitasnya
38
PETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
juga harus spesial sesuai kebutuhan pekerja industri. Atau
dengan kata lain adanya beras industri.
Kemudian Bulog sebagai penyangga utama harus mampu
menyerap gabah/beras lebih banyak terutama di saat musim
panen raya agar stabilitas harga tak hanya menjaga instrumen
kebijakan tetapi melindungi penyakit menahun petani yakni
kerugian dan kesengsaraan.
l
41
ALI SYARIF LAMBANG
Dilema Petani, Kawan atau
Lawan?
K
emiskinan yang terjadi di sektor pertanian dikarenakan
para pelaku utama di sektor ini yakni para petani
masih miskin. Sebagai penunjang kehidupan berjuta-
juta masyarakat Indonesia, menurut saya, sektor pertanian
membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang kokoh dan pesat.
Pertanian seharusnya menjadi leading sector dalam program
dan strategi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan.
Saat ini petani sering diidentikan dengan miskin atau tidak
sejahtera. Menurut data BPS, jumlah petani mencapai 44
persen angkatan kerja di Indonesia, dan lebih dari separuhnya
merupakan petani gurem dan buruh tani dengan kepemilikan
lahan di bawah 0,5 hektare.
Padahal kita sama-sama tahu, bahwa kesejahteraan petani
sangat menentukan prospek ketahanan pangan. Kesejahteraan
petani ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya petani
diidentikan miskin karena memang tidak memiliki faktor
produksi apapun kecuali tenaga kerjanya, luas lahan usahatani
Petani
Kawan atau Lawan?
4342
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
yang sempit, terbatasnya akses terhadap pembiayaan dan
permodalan usahatani, terbatasnya informasi dan teknologi,
infrastruktur produksi yang tidak memadai, pengetahuan
petani yang rendah serta kondisi pasar produk pertanian tidak
selalu menguntungkan petani.
Semua keterbatasan tersebut menyebabkan kegiatan usaha
tani kurang eisien, sumber daya tidak dimanfaatkan secara
optimal dan produktivitas usaha tani menjadi rendah. Pada
dasarnya penyebab kemiskinan dikelompokkan menjadi dua
yaitu yang bersifat teknis dan yang bersifat struktural.
Menurunkan angka kemiskinan, selain menitikberatkan
pertumbuhan ekonomi, juga harus menerapkan pemerataan
distribusi pendapatan yang baik melalui sektor pertanian. Di
sektor pertanian, selain mengatasi kemiskinan, kesenjangan
dan kesempatan kerja, inventarisasi dan ekspor, juga revitalisasi
pertanian dan pedesaan. Pembangunan pertanian menciptakan
kesempatan kerja, dan mengentaskan kemiskinan, menjadi
penyedia lapangan pekerjaan yang besar.
Data dari Institute for Development of Economics and
Finance (INDEF) menyebutkan ada tiga pilar yang seharusnya
menjadi fokus utama pemerintah dalam usahanya
mengentaskan kemiskinan. Ketiga pilar itu adalah perkuatan
di sektor pertanian, perbaikan sektor industri domestik, dan
keberpihakan sektor keuangan kepada masyarakat miskin.
Cukup banyak faktor yang menjadi penyebab mengapa
kemiskinan masih ”melilit” petani. Dari sekian banyak hal yang
membuat petani semakin miskin, menurut saya se muanya
itu berujung pada dua persoalan utama sebagai pen yebab
mengapa kemiskinan tetap menjerat petani.
Pertama adalah masalah kepemilikan tanah yang sedikit
dan kedua persoalan harga yang tidak menguntungkan buat
petani. Tanah atau lahan me rupakan faktor yang paling utama
dalam usaha tani. Tanpa ada lahan, pertanian tidak mungkin
dilakukan. Ada pun lahan, kalau luasnya tidak mencukup atau
tidak sesuai dengan skala ekonomi, di pastikan usaha pertanian
tidak akan menguntungkan petani. Inilah sesungguhnya yang
menjadi salahsatu persoalan petani.
Berdasarkan data yang ada, rata-rata kepemilikan lahan
pertanian petani di Indonesia hanya 0,5 ha per keluarga
tani. Dengan lahan seluas itu, jelas sulit sekali buat petani
mengangkat taraf hidupnya. Bagaimana pun kerasnya, ia
berusaha, apapun komoditas yang dikembangkan, tidak akan
pernah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Apalagi, kepemilikan lahan usahatani se makin lama
semakin menurun seiring bertambahnya jumlah penduduk
dan meningkatnya kebutuhan lahan untuk sektor non
pertanian. Banyak lahan petani yang berpindah tangan, baik
yang disebabkan karena tekanan ekonomi sehingga petani
terpaksa menjual lahan nya, maupun karena lahan tersebut
tidak produktif lagi karena suatu sebab seperti hilangnya
sumber air atau ketiadaan irigasi.
Sebenarnya untuk meningkatkan ke pemi likan lahan,
pemerin tah telah meluncurkan program reformasi agraria.
Melalui prog ram nasional di bidang agraria, pemerin tah
berjanji akan membagi tanah kepada petani atau rakyat miskin
yang tidak memiliki tanah. Tujuannya agar petani miskin yang
tidak berlahan kembali me miliki lahan. Namun, sampai saat ini
belum berjalan maksimal.
Masalah kedua yang terus menjerat petani dalam kubangan
kemiskinan adalah soal harga komoditas pertanian. Dalam tata
niaga hasil pertanian, petani adalah kelompok yang paling
dirugikan dalam masalah harga. Tidak saja karena harga
4544
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
yang tidak menguntungkan, petani merupakan kelompok
yang paling sedikit menikmati per tam bahan nilai dari hasil
per tanian. Keuntungan terbesar justru dinikmati kelompok
pedagang, apakah itu pedagang pengumpul, pedagang besar
atau pengecer.
Padahal untuk menghasilkan suatu produk pertanian, petani
harus menunggu dalam waktu yang cukup lama agar bisa
menikmati hasil pertanian. Itupun harus menghadapi risiko
gagal panen, baik karena serangan hama, iklim yang tidak
menentu, dan tidak tersedianya sarana produksi. Sementara,
para pedagang, dalam hitung jam, dalam tata niaga hasil
justru bisa menerima keuntungan yang kadang nilainya bisa
dua kali lipat dari keuntungan yang dinikmati petani.
Posisi sebagai produsen utama suatu komoditas pertanian
pun tidak menjamin kalau keuntungan yang besar buat petani.
Oleh karena itu, pemerintah yang diharapkan melindungi
petani dalam ma salah harga ini terkesan mem biarkan petani
berjuang sen dirian untuk mendapatkan harga yang layak.
Tidak ada upaya yang serius dari pe merin tah agar petani bisa
mendapat porsi keuntungan yang besar dalam tata niaga hasil
pertanian.
Bahkan dalam kasus-kasus tertentu pemerin tah ikut me nekan
harga se hingga harga yang tadi justru cukup me nguntung kan
buat petani, anjlok dan kembali merugikan petani. Dalam posisi
seperti ini, nada sinis pun terdengar nyaring menganggap petani
sebagai lawan. Padahal saat tertentu di mana mereka dituntut
untuk meningkatkan produksi menuju target swasembada
pangan, petani pun sebagai kawan.
Lalu kemudian, kebijakan pemerintah untuk mengimpor
berbagai produk hasil pertanian, merupakan kebijakan
yang tidak pro pada petani. Kebijakan impor ini se makin
leluasa, ketika Indonesia yang tergabung dalam negara ASEAN
meratiikasi perjanjian kerja sama dengan Cina dalam perjanjian
ACFTA di mana berbagai produk pertanian dari negara tirai
bambu itu bebas masuk ke ASEAN, termasuk ke Indonesia.
Serbuan berbagai produk pertanian dari Cina dan negara-
nagara ASEAN sendiri kini sudah sangat terasa mene kan harga
produk pertanian di Indonesia. Ke depan, kalau ingin melihat
petani keluar dari kemiskinan, maka dua per soalan utama
tersebut harus terselesaikan. Tanpa ada upaya keras dan
tegas keberpihakan terhadap peningkatan ke pemilikan lahan
dikalangan petani dan memberikan harga komoditas pertanian
yang lebih menguntungkan buat petani, sulitnya rasa petani
bangkit dari kemiskinan. Petani akan tetap terjerat dalam
kubangan kemiskinan.
l
Saat dituntut meningkatkan
produksi untuk swasembada
pangan, petani sebagai kawan.
Saat tertentu, petani terabaikan
dalam skema tata niaga pangan.
47
ALI SYARIF LAMBANG
Saprodi Digratiskan,
Kenapa Tidak?
S
elama ini petani di Indonesia masih sering kesulitan
mendapatkan pupuk pada saat memasuki musim tanam.
Pupuk merupakan kebutuhan utama dalam peningkatan
produksi, dan pemerintah telah berbagai macam cara yang
dilakukan dalam memenuhi kebutuhan petani baik pemerintah
pusat maupun daerah, sehingga dari tahun ketahun terus ada
perbaikan dan semakin baik. Hanya saja pengelolaan dan
perencanaan di daerah yang masih sering terkendala karena
kurangnya perhatian pemerintah terhadap masalah ini.
Oleh karena itu, menurut saya sebaiknya pemerintah dalam
hal ini pemerintah daerah menggandeng produsen pupuk
tanah air, dan memberikan kemudahan dalam pembangunan
gudang penyimpanan pupuk setiap musim sesuai kebutuhan
petani. Selain itu, pemerintah juga harus memberdayakan
aset lokal yaitu sumber daya manusia (SDM) yang mampu
menciptakan produk lokal seperti pupuk cair/pupuk organik
sebagai alternatif ketika terjadi kelangkaan pupuk di tingkat
Petani
Kawan atau Lawan?
4948
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Hasil kreativitas petani berupa alat angkut gabah dari sepeda motor yang telah
dimodifikasi menggantikan tenaga kuda atau sapi.
Pada saat panen
traktor dimanfaatkan
menjadi sarana
transportasi hasil
panen (kreativitas
petani).
petani.
Selama ini problematika petani tidak melulu hanya soal
kelangkaan pupuk. Tapi juga masalah sarana produksi (saprodi)
seperti pestisida juga kerap menghadang. Misalnya pada saat
ada serangan hama dan penyakit, para petani pun kesulitan
mengatasinya. Apalagi, masalah OPT (organisme pengganggu
tanaman), khususnya terhadap tanaman padi, selalu muncul
setiap musim.
Mempertegas pembahasan sebelumnya bagi saya,
sebenarnya kesadaran petani memilih benih/bibit unggul
sudah baik. Hanya saja mereka kesulitan saat kejadian, harus
membeli pupuk dan pestisida sebagai sarana merawat tanaman
dengan harga yang tidak murah.
Oleh karena itu, saya menawarkan solusi dengan pertama-
tema kita memandang petani sebagai aset bangsa terpenting
dalam kehidupan. Karena pangan terutama beras adalah
makanan pokok di negara ini. Dan beberapa daerah di
Indonesia tercatat merupakan sentra penyedia beras dalam
memenuhi kebutuhan pangan nasional. Oleh karena itu sangat
layak jika pemerintah mulai berpikir agar kebutuhan pupuk
dan pestisida bagi petani menjadi tanggung jawab pemerintah
alias digratiskan.
l
Sangat layak jika pemerintah mulai
berpikir agar kebutuhan pupuk dan
pestisida petani menjadi tanggung
jawab pemerintah alias digratiskan.
51
ALI SYARIF LAMBANG
BumDes dan Kemajuan
Teknologi
B
adan Usaha Milik Desa (BumDes), memiliki peran strategis
didalam memajukan dan menggerakkan perekonomian
desa. BumDes juga dapat mengedukasi masyarakat
pedesaan yang mayoritas menggantungkan priuk nasinya
pada sektor bercocok tanam, cara berikir berkemajuan, cara
bermusyawarah, cara berwirausaha secara gotong royong
layaknya Koperasi, bertoleransi, menghargai satu sama lain
untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.
Kedepan, BumDes perlu direkonstruksi dan diberi peran
operasionalisasinya oleh pemerintah agar dapat lebih
berkontribusi sesuai perannya terutama dalam mengikuti
dinamika zaman dengan pesat dan cepatnya kemajuan
teknologi. Hal ini penting agar kehadiran BumDes diharapkan
dapat menguatkan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,
pertahanan keamanan khusunya di desa. Langkah strategis ini
harus pula dibarangi dengan peningkatan Kapasitas melalui
pendidikan dan pelatihan aparatur pemerintahan desa dan
Petani
Kawan atau Lawan?
5352
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Ali Syarif merangkul
petani sembari
mendengar cerita
suka duka mereka
menggarap tanaman
padi di tengah
persawahan.
pengelola BumDes itu sendiri.
Digitalisasi yang merangsek hingga ke sumsum desa
merupakan kemajuan teknologi yang tak memberi ruang
untuk menolaknya, setuju atau tidak, teknologi kian hari makin
maju. BumDes yang merupakan perusahaan pemerintahan
desa, dikelola oleh masyarakat tak luput dari penggunaan
teknologi yang memang kegunaanya banyak memberi manpaat
dan peluang usaha.
Digitalisasi merupakan perkembangan teknologi yang
telah mengubah kehidupan sosial masyarakat, merevolusi
model bisnis dan merubah tatanan pelayanan dunia usaha,
pemerintah dalam melayani masyarakat bahkan teknologi
merubah politik, ekonomi dan peradaban dunia.
BumDes tak hanya sebagai
sokoguru ekonomi desa tapi
mengedukasi masyarakat dalam
memaknai kemajuan teknologi.
BumDes sebagai badan usaha, harus menyesuaikan diri
dengan industri pedesaan yang selama ini didominasi sektor
pertanian yang melibatkan petani sebagai pelaku utamanya.
Implementasinya Pemerintah Daerah (Pemda) perlu memberi
ruang yang cukup berupa regulasi di bidang pengolahan
produksi, pelatihan dan sumber permodalan yang memadai
untuk membantu petani meningkatkan hasil produksinya.
Peran aktif pemerintah membuat regulasi yang solutif dan
komprehensif dalam penyiapan SDM handal dan tangguh
5554
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
mutlak adanya agar masyarakat desa tak termarginalkan dengan
kemajuan teknologi akibat SDM yang terbatas. Maka kehadiran
BumDes tak hanya sebagai sokoguru ekonomi ditingkat desa
tapi juga perannya sebagai lembaga edukasi masyarakat dalam
memaknai kemajuan teknologi dan keadilan pembangunan.
l
Petani Butuh Teknologi!
S
ejumlah pihak menilai, tren peningkatan produksi
komoditas pertanian tidak sebanding dengan
peningkatan kesejahteraan petani. Itu ditandai dengan
data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani
(NTP) cenderung menurun sejak awal tahun ini.
Mencermati indikator tingkat kesejahteraan petani tersebut,
menurut saya tentu saja berbanding terbalik dengan berbagai
upaya yang telah dilakukan pemerintah, seperti pengadaan
pupuk bersubsidi, bantuan alat berat pertanian, dan benih.
Idealnya, upaya tersebut mampu mengurangi ongkos produksi
petani dan mendongkrak NTP. Apabila petani untung, maka
petani akan mencari teknologi dan membelinya. Sewaktu
Gubernur Gorontalo menaikkan harga jagung dan menjaminnya,
petaninya senang, dan tidak ada masalah benih, pupuk,
pestisida. Petani mencari teknologi, mengejar penyuluh. Luas
dan produktivitas meningkat. Ada banyak tersedia teknologi
pilihan, tetapi yang dapat terjangkau petani Rendah karena
petani tidak memiliki daya beli.
Saya juga sependapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)
5756
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Pendampingan penggunaan teknologi panen dengan mekanisasi yang lebih efektif dan
efisien.
Mekanisasi pertanian adalah sebuah keniscayaan yang menjadi alat bantu petani dalam
mendongkrak produksi dengan efisien dan praktis. Seperti alat pertanian yang jadi
perhatian Presiden Jokowi di Kabupaten Pinrang, Sulsel.
bahwa yang dibutuhkan petani saat ini adalah teknologi yang
dapat meningkatkan pendapatan. Mestinya pemerintah dalam
hal ini instansi teknis Kementan harus fokus ke situ.
Sebelumnya dalam suatu kesempatan, Wapres JK
menyinggung cara Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman
yang melibatkan TNI dalam meningkatkan produktivitas
pertanian. JK mengungkapkan, saat ini pendapatan petani
masih rendah, bahkan di bawah Upah Minimum Regional
(UMR). Kondisi ini membuat petani beralih profesi menjadi
buruh pabrik yang pendapatanya lebih besar. ”Kalau ditanya
lebih siapa yang bekerja keras? Petani dari pagi sampai sore
di kebun, gaji di bawah UMR, pasti petani lari ke factory
(pabrik).Kita tidak bisa mepertahankan apa pun,” kataWapres
JK saat membuka acara Jakarta Food Security Summit, di
Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (8/9/2017).
Yang dibutuhkan petani saat
ini adalah teknologi yang dapat
meningkatkan pendapatan.
Menurut JK, yang dibutuhkan petani saat ini adalah teknologi
yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian, sehingga
pendapatan petani meningkat. Dia pun menyinggung langkah
Amran Sulaiman yang melibatkan TNI untuk hal tersebut.
”Yang bisa solusi teknologi pangan, walau dengan Panglima,
Kodim, Koramil itu tidak mempan. Karena pendapatanya tidak
(naik), jangan dilakukan terus itu Pak Menteri,” tuturnya.
JK lebih jauh menerangkan, seiring perkembangan zaman,
58
PETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
maka kebutuhan petani semakin meningkat. Kondisi ini
dapat terpenuhi oleh peningkatan pendapatan. ”Karena ingin
pendapatannya lebih tinggi. Orang tidak akan beli motor, beli
baju kalau tidak ada pendapatanya,” ucap Kalla.
Dia mengungkapkan, saat ini banyak negara yang dapat
meningkatkan produktivitas pertaniannya tanpa menambah
lahan. Sebagai contoh, lanjutnya, India. Negara yang
sebelumnya menjadi importir gandum itu, kini menjadi
eksportir gandum. Bahkan, Indonesia saat ini mengimpor
beras dari Negeri Bollywood tersebut.
”Banyak negara yang berhasil meningkatkan produtkivitas
tanpa menambah lahan. Contoh India, dulu impor gandum
sekarang ekspor gandum. Kita juga impor beras dari India. Kita
harus belajar dari India,” tandasnya.
l
61
ALI SYARIF LAMBANG
Mengurus Petani,
Merawat NKRI
A
da yang bertanya kalau saya dikenal dekat dengan para
petani di sejumlah daerah di Indonesia. Saya hanya
menjawab simpel bahwa sudah menjadi tanggungjawab
kita bersama untuk ”mengurusi” petani. Karena dengan begitu
berarti kita sudah mengurusi Indonesia yang notabene sebagian
besar penduduknya adalah petani di pedesaan.
Mungkin karena saya sering bertemu dengan para petani
kalau berkunjung ke daerah sehingga ada yang berpendangan
begitu. Yah... biarlah mereka yang bicara. Yang pasti, prinsip
saya hanya untuk ingin memperbaiki nasib petani Indonesia
menuju sejahtera dan kemandirian pangan nasional. Sebab,
menurut saya, petani Indonesia itu pejuang pangan nasional. 
Di berbagai kesempatan keliling daerah, saya selalu
mengingatkan para pemangku kepentingan atau stakeholder
di daerah untuk memperhatikan nasib petani kita dan
menggalakkan gerakan membeli beras lokal hasil petani kita.
Ini dimaksudkan untuk membentuk pasar sistemik, agar beras
Petani
Kawan atau Lawan?
62
PETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
lokal dikenal, harganya jadi bagus dan tentunya pendapatan
petani bisa meningkat. 
Keinginan dan kerja keras kami bersama para petani selama
ini melalui berbagai program perlahan mulai menunjukkan
buah. Di mana harga gabah kering petani di beberapa lokasi
sentra pangan di tanah air merangkak naik seiring kenaikan
produksinya. Bahkan saya tak berhenti sampai di situ. Saya
pun mendorong agar supaya kelebihan produksi padi petani
di sejumlah daerah untuk diantarpulaukan dan diekspor
ke negara tetangga sehingga income petani diharapkan bisa
berlipat-lipat. 
Pada bagian lain, saya tetap merasa prihatin. Betapa tidak,
karena beberapa kawasan sawah di daerah sentra produksi
kian menyusut ’tergerus’ imbas pembangunan. Apalagi kalau
pemilik lahan butuh uang, pasti dijual untuk perumahan
dan keperluan non-pertanian lainnya. Itulah sebabnya, mulai
beberapa tahun lalu, saya mendorong agar kepada instansi
terkait agar melaksanakan pencetakan sawah baru. Selain itu,
harus juga memastikan dan mengawasi agar pemerintah desa
menjalankan aturan yang menjamin lahan sawah yang ada
tersebut tak dialihfungsikan.
l
Prinsip saya ingin memperbaiki
nasib petani. Sebab, petani Indonesia
itu pejuang pangan nasional.
65
ALI SYARIF LAMBANG
Optimis Petani Bisa
Sejahtera
B
erbicara kesejahteraan petani, menurut saya, sangat
berkaitan dengan daya beli masyarakat. Kemiskinan
menyebabkan daya beli masyarakat lemah sehingga
komoditas para petani hanya bisa dikuasai para tengkulak.
Padahal, jika komoditas hasil petani bisa langsung menguasai
pasar masyarakat, ini akan jauh lebih baik dan tidak banyak
mata rantai yang akhirnya membuat petani hanya mendapatkan
untung sangat kecil. Sekarang persoalannya ketika kita bicara
daya beli, kita bicara masalah miskin.
Untuk mengetahui apakah petani sejahtera atau tidak, salah
satu tolak ukur adalah melihat Nilai Tukar Petani (NTP) dan
saya optimis NTP bisa mencapai angka 100, yang artinya petani
kita masih mempunyai simpanan.
Sebenarnya kalau kita mau menelusuri, cukup banyak
faktor yang menjadi penyebab mengapa kemiskinan masih
melilit petani. Kemiskinan yang terjadi di sektor pertanian
dikarenakan para pelaku utama di sektor ini yakni para petani
Petani
Kawan atau Lawan?
6766
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Ali Syarif berbincang santai dengan kalangan petani dalam setiap kunjungannya di
perdesaan.
masih miskin.
Sebagai penunjang kehidupan berjuta-juta masyarakat
Indonesia, sektor pertanian membutuhkan pertumbuhan
ekonomi yang kokoh dan pesat. Pertanian seharusnya menjadi
leading sector dalam program dan strategi pemerintah untuk
mengentaskan kemiskinan.
Saat ini petani sering diidentikan dengan miskin atau tidak
sejahtera. Menurut data BPS, jumlah petani mencapai 44
persen angkatan kerja di Indonesia, dan lebih dari separuhnya
merupakan petani gurem dan buruh tani dengan kepemilikan
lahan di bawah 0,5 hektare.
TABEL: Proyeksi Produksi Beras Nasional (Juta Ton)
Tahun Produksi Konsumsi Surplus
2017 46,16 32,7 11,9
2018 47,4 33,1 12,7
2019 48,6 33,5 13,5
Sumber: Kementan
Sementara itu kesejahteraan petani sangat menentukan
prospek ketahanan pangan. Kesejahteraan petani ditentukan
oleh beberapa faktor di antaranya petani diidentikan miskin
karena memang tidak memiliki faktor produktif apapun kecuali
tenaga kerjanya, luas lahan usahatani yang sempit, terbatasnya
akses terhadap pembiayaan dan permodalan usahatani,
terbatasnya informasi dan teknologi, infrastruktur produksi
yang tidak memadai, pengetahuan petani yang rendah serta
kondisi pasar produk pertanian tidak selalu menguntungkan
petani.
Semua keterbatasan tersebut menyebabkan kegiatan usaha
6968
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
tani kurang eisien, sumber daya tidak dimanfaatkan secara
optimal dan produktivitas usahatani menjadi rendah. Pada
dasarnya penyebab kemiskinan dikelompokkan menjadi dua
yaitu yang bersifat teknis dan yang bersifat struktural.
Nah, di balik diskursus topik kemiskinan tersebut, saya
melihat ada setitik cahaya dalam lorong kegelapan. Artinya
masih ada potensi dan prospek di mana petani kita bisa sejahtera.
Alasannya demand produk pertanian terutama beras yang kian
meningkat. Misalnya saja, Indonesia pada Hari Kemerdekaan
yang ke-100 pada 2045, maka pendudukIndonesia diprediksi
akan mencapai angka 330 juta jiwa. Artinya pangan dibutuhkan
secara terus menerus, kira-kira 3 persen per tahun dan
Indonesia harus siap memenuhi kebutuhan yang besar tersebut.
Lalu pertanyaannya, siapa yang paling berpeluang
”menangkap” kebutuhan itu? Ya… tentu saja petani kita sangat
memiliki prospek cerah. Bagaimana petani kita bisa mencapai
peluang yang menjanjikan itu?
TABEL: Daerah Lumbung Padi Nasional 2017/2018
Provinsi Produksi (ton) Persentase (%)
1. Jawa Timur 14,12 jt 16,1
2. Jawa Barat 13,52 jt 15,38
3. Jawa Tengah 11,42 jt 14
4. Sulawesi Selatan 6,2 jt 7
Sumber: Kementan
Oleh karena itu, saya berpendapat kedepan pentingnya
membangun ketahanan pangan melalui para petani di
Indonesia. Upaya Indonesia mencapai ketahanan pangan
mesti disokong oleh kesejahteraan petani yang baik pula.
Contoh gejala serangan hama pada padi:
Contoh hama tanaman padi:
70
PETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Pemberdayaan para petani sangat penting untuk mewujudkan
pemerataan perekonomian di Indonesia, jangan lagi hanya
sekadar lipservice.
Tiga Opsi Petani Sejahtera
1. Naikkan harga jual
2. Kurangi biaya produksi
3. Tingkatkan produksi
Bagi saya, menggapai kesejahteraan petani kita mesti melalui
proses pemberdayaan, yang bisa melibatkan mitra perusahaan
yang bergerak di bidang pertanian yang sifatnya terintegrasi.
Menurut saya, ada tiga upaya konkret yang mesti dilakukan
agar petani kita bisa sejahtera. Pertama soal harga jual produksi
padi atau gabah petani. Tapi hal ini sulit diintervensi oleh
pemerintah karena berlakunya mekanisme pasar. Lalu yang
kedua, kurangi biaya operasional untuk pengadaan sarana
produksi (saprodi). Hanya saja, hal ini juga belum bisa maksimal
karena tidak memberikan jaminan. Dan yang ketiga adalah
meningkatkan produksi. Opsi ini lebih realistis, karena dengan
begitu petani bisa meningkatkan hasil yang besar meskipun
haga turun tapi menerima lebih banyak karena produksinya
banyak.
l
Pada 2045 pendudukIndonesia
diprediksi mencapai 330 juta jiwa.
Artinya pangan dibutuhkan dan petani
harus siap penuhi kebutuhan tersebut.
Wacana Opsi Beras
Industri
K
alau kita mencermati di sekeliling kita, ada fenomena
yang menarik. Salah satunya adalah terutama di sektor
usaha informal yang berupa rumah makan, mulai dari
kelas kaki lima, warteg (warung tegal) hingga restoran. Mereka
membutuhkan pasokan beras terus menerus dalam jumlah
besar untuk menu hidangan nasi bagi konsumennya.
Nah, kalau kita perhatikan para pedagang atau pengusaha
rumah makan tersebut membeli beras dari petani dengan
harga yang relatif sama. Namun saat mereka menjualnya
ke konsumen dalam bentuk nasi justru harganya bervariasi
bahkan ada restoran yang menjualnya dengan harga seribu kali
lipat dari harga nasi di warteg.
Lalu pertanyaannya, dari variasi harga tersebut, siapa yang
sesungguhnya menikmati hasil kerja keras petani kita? Yah…
bukan petani atau masyarakat kelas menengah bawah, tetapi
kelompok tertentu yang mengambil margin untung yang
besar dari harga beras petani yang dibelinya dengan murah.
72
PETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Menurut saya kedepan harus ada perbedaan harga beras
petani kita yang diperuntukkan untuk sektor rumah tangga,
UMKM, dan industri rumah makan sekelas restoran kelas
atas. Apalagi saat ini sudah ada istilahnya beras bagi rakyat
miskin (raskin), beras masyarakat pra sejahtera (rastra), dan
mengapa tidak ada juga istilahnya beras industri bagi kalangan
pedagang atau pengusaha restoran ataupun untuk kebutuhan
bagi perusahaan, ekpatriat, yang sifatnya non subsidi.
Opsi beras industri bisa menjadi
solusi mengangkat kesejahteraan
petani Indonesia.
Dengan wacana beras industri tersebut, saya berharap
nantinya kedepan akan tercipta pasar harga beras petani yang
kompetitif. Di mana ada kualitas beras maka ada harga yang
baik. Dengan kata lain, harga mengikuti kualitas beras yang
dihasilkan petani kita. Itu artinya, petani kita akan terpacu
untuk menghasilkan beras yang berkualitas tinggi dengan
target sasarannya beras bagi industri non subsidi. Dan gagasan
ini hanya bisa terwujud atau berjalan jika ada campur tangan
dari pemerintah, baik itu dalam bentuk Perda (Peraturan
Daerah) atau Permentan (Peraturan Menteri Pertanian).
Opsi beras industri bisa menjadi solusi mengangkat
kesejahteraan petani Indonesia.
Adapun dampak dari adanya beras industri tersebut dengan
demikian memacu petani kita untuk menghasilkan dua
pilihan dalam produksinya. Dan ini bukan hanya berlaku pada
7574
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Kemadirian Petani,
Kedaulatan Pangan
I
ndonesia merupakan negara agraris dan sebagian besar
penduduknya bergantung pada beras sebagai makanan
pokok mereka. Dengan demikian, tidak bisa dipungkiri
bahwa permintaan beras di masyarakat akan sangat tinggi.
Tetapi pada kenyataannya hasil panen padi di Indonesia masih
belum mampu mencukupi kebutuhan beras masyarakat.
Indonesia yang notabene disebut sebagai negara agraris
masih harus mengimpor beras dari negara lain yang pastinya
merupakan ironi yang harus segera ditanggapi.
Ketidakmampuan Indonesia untuk memenuhi permintaan
beras di Indonesia mungkin disebabkan oleh pengetahuan
mengenai cara budidaya padi sawah yang masih minim di
tingkat petani. Bertanam padi boleh jadi merupakan kegiatan
turun-temurun yang sudah dilakukan sejak nenek moyang.
Tetapi saat ini di era yang disebut ”zaman now”, menurut
saya, dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, petani
seharusnya bisa menerapkan sistem tanam yang lebih eisien
komoditas padi saja, tapi juga untuk jenis tanaman lainnya
seperti cabe, bawang merah dan lainnya.
Selama ini kita telah mengenal produk gas elpiji bagi
masyarakat miskin (LPG 3 kg) yang disubsidi dan gas industri
yang nonsubsidi. Ada juga produk garam rakyat dan garam bagi
industri yang nonsubsidi. Lalu, untuk memenuhi rasa keadilan
bagi petani kita, rasanya opsi beras industri bisa menjadi solusi
mengangkat tingkat kesejahteraan petani Indonesia.
l
7776
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Membangun Kemandirian Petani
dan produktif sehingga kebutuhan pangan akan tercukupi dari
produksi dalam negeri dan kesejahteraan petani pun akan
semakin meningkat.
Oleh karena itu, saya berpendapat, bahwa ”petani zaman
now” tidak boleh berhenti belajar mengenai teknik budidaya
padi sawah paling mutakhir yang dimulai dari pemahaman
mengenai syarat tumbuh dan pelaksanaan teknis budidaya padi
sawah itu sendiri sampai pengendalian organisme pengganggu
tanaman (OPT).
Selain itu perlunya manajemen promosi yang masif dan
efektif, terutama terhadap ”brand” kualitas produksi hasil
petani kita, khususnya yang berasal dari daerah-daerah yang
selama ini dikenal sebagai lumbung beras.
Di Sulawesi Selatan misalnya, kabupaten Sidrap sejak dulu
telah dikenal sebagai daerah lumbung pangan utamanya
padi. Namun sampai kini belum terdengar penduduk kota
memprioritaskan mencari beras Sidrap, tetapi masih terpaku
pada beras dengan varietas tertentu.
Berkaitan dengan hal tersebut, menurut saya, harus dibuat
brand khusus beras Sidrap yang dapat dipromosikan secara
nasional maupun Internasional. Yang dimulai oleh pejabat
daerah setempat dulu. Dengan demikian, diharapkan dapat
membuat Sidrap sebagai pilihan utama para pelancong/
pengendara yang melintasi daerah Sidrap sebagai tempat
pilihan untuk makan dengan alasan beras Sidrap yang enak
dan pulen. Kabupaten Sidrap hanyalah satu contoh dari
banyak daerah lumbung beras di tanah air.
Selanjutnya berbicara kemadirian petani dalam hal ini
menurut saya adalah petani yang sudah berani melepaskan
diri dari bantuan pemerintah namun dengan tetap mengikuti
tahapan teknologi sesuai dengan perkembangan jaman. Bisa
78
PETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
dalam bentuk mereka berkelompok bekerja sama dalam
penggilingan sehingga kebutuhan tanaman untuk mencapai
hasil maksimal dapat terpenuhi.
Meskipun dalam beberapa poin pembahasan sebelumnya
kita banyak menemukan masalah yang dihadapi para petani
dalam mencapai kesejahteraan namun tidak sedikit juga petani
yang sukses karena menjadi petani, terutama petani yang
berpikir kemandirian. Dan saya pun pada 2015 mencoba
menghimpun para petani mandiri tersebut dengan menginisiasi
pembentukan komunitas petani yang produksinya di atas
sepuluh ton atau yang disingkat ”Koppast”.
l
Meski banyak kendala, namun tidak
sedikit petani yang sukses terutama
yang berpikir kemandirian.
Petani Now dan Industri
Kreatif
T
antangan petani di masa sekarang tentu saja berbeda di
masa lampau. Apalagi, terkait waktu kerja petani makin
sedikit di sawah hingga terkesan sebagai ”pengangguran
terselubung”.
Dewasa ini, menurut saya, memang harus diakui para petani
dituntut untuk lebih kreatif dan mau bekerja keras. Sebab,
biaya komponen produksi pertanian makin meningkat, dan
terkadang ada yang tidak dijual di pasar dan harus dibuat
sendiri. Walau demikian semua jerih payah tersebut bakal
dinikmati dalam bentuk hasil produksi yang berlimpah dan
minim biaya.
Artinya, dengan luas lahan pertanian yang sama, namun
dengan perlakukan yang berbeda serta dengan biaya produksi
yang relatif rendah dapat menghasilkan panen yang jauh lebih
tinggi.
Berdasarkan pengalaman dan kunjungan saya ke berbagai
daerah, biaya produksi yang dapat ditekan pada awal bertani
8180
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
berkisar diangka 60 persen. Penekanan biaya produksi tersebut
memiliki arti yang sangat penting bagi petani. Sebab selama
ini yang menyebabkan para petani masih terjebak dalam
kubangan kemiskinan karena mereka masih ”terbelenggu”
oleh biaya produksi yang makin membengkak seiring dengan
mahalnya saprodi seperti pupuk dan pestisida.
Selain itu, terlebih lagi makin lama kebutuhan terhadap
saprodi semakin meningkat karena lingkungan atau areal
pertanian semakin membutuhkan penambahan dosis. Karena
ada kecendrungan dosis yang biasa dipakai akan tidak optimal
terutama pestisida yang harus menyesuaikan dengan imunitas
hama dan penyakit. Di samping itu juga terhadap kebutuhan
pupuk yang juga cenderung makin meningkat. Hal ini
disebabkan jasad organik yang ada dalam tanah ikut musnah
sehingga kesuburan tanah hanya tergantung pada pupuk.
Menurut pandangan saya, terutama dari sisi ekonomi, jelas
dengan menekan biaya produksi tentu margin keuntungan
bakal makin besar yang diperoleh petani yang bersangkutan.
Sebagai anak petani dan kemudian berkecimpung di industri
pertanian puluhan tahun, saya merasa memiliki tanggung
jawab sebagai pendamping untuk petani di Indonesia.
Dari pengalaman di lapangan, saya juga menemui kendala
eksternal berupa regulasi dari Pemerintah yang belum
optimal mendukung gerakan pertanian yang berpihak kepada
petani, mulai dari Perda di pemerintahan kabupaten hingga
di tingkat provinsi. Walaupun ada sejumlah daerah yang
mulai menerapkan aturan yang mengarah kepada dorongan
peningkatan produksi padi sawah, patut kita beri apresiasi,
namun dari segi persentase masih kecil.
Secara sederhana saya menawarkan solusi berupa di setiap
kecamatan sebaiknya terdapat semacam ”Agro Learning
Center”, yang menjadi tempat studi banding untuk petani
lokal dan daerah tetangga sehingga bisa diadopsi. Selain itu,
harus dilakukan upaya mengembangkan teknologi pertanian
modern bertaraf internasional dan mendorong pertumbuhan
ekonomi berbasis petani, serta mengintervensi ketersediaan
sarana dan prasarana pertanian (pupuk dan pestisida) dengan
menyediakan ”Gudang Center”.
Opsi Solusi Pro Petani
1. Mengembangkan teknologi pertanian modern bertaraf internasional.
2. Mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis petani.
3. Mengintervensi ketersediaan sarana dan prasarana pertanian (pupuk dan
pestisida) dengan menyediakan ”gudang center”.
4. Membangun infrastruktur jalan tani dan memaksimalkan lahan tadah hujan
dengan komoditas yang sesuai.
5. Menjadikan budaya musyawarah desa sebagai landasan dalam mengambil
keputusan.
6. Intensifkan lahan tidur menjadi produktif dengan prinsip tiada lahan tanpa
tanaman dengan mendorong pemuda dalam usaha tani.
7. Melibatkan dan memberdayakan sarjana pertanian dalam pendampingan.
8. Mendorong petani menciptakan pupuk organik/pupuk cair sebagai pupuk
alternatif dengan memanfaatkan sumber alam sekitar.
Selain itu, mesti dilakukan upaya membangun infrastruktur
jalan tani dan memaksimalkan lahan tadah hujan dengan
komoditas yang sesuai. Kemudian, intensifkan lahan tidur
menjadi produktif dengan prinsip tiada lahan tanpa tanaman
dengan mendorong pemuda dalam usaha tani. Dan menurut
saya, perlu juga mendorong petani kita agar bisa menciptakan
pupuk organik/pupuk cair sebagai pupuk alternatif dengan
memanfaatkan sumber alam sekitar.
Kedepan saya berharap opsi solusi tersebut di atas bisa
8382
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
mendapat dukungan oleh para stakeholders sehingga kalangan
petani secara bertahap mampu ke luar dari lingkungan
kemiskinan yang selama ini membelitnya.
l
Tantangan dewasa ini, harus diakui
para petani dituntut untuk lebih
kreatif dan mau bekerja keras.
Petani Butuh Wujud
”Kehadiran” Negara
D
engan situasi seperti yang ada saat ini, tentu saja
kita tidak bisa hanya pasrah atau berpangku tangan
saja menerima nasib. Ditengah sikap skeptis sebagian
masyarakat, saya termasuk orang yang selalu berpikir
optimisme. Lalu pertanyaannya kemudian, apa yang
sesungguhnya bisa dilakukan untuk menyelamatkan pertanian
kita yang beroreintasi pada kesejahteraan petani?
Menurut saya, setidaknya ada beberapa opsi solusi strategis
yang bisa dilakukan, terutama dari aspek proses produksi
dan distribusi. Dari sisi proses produksi misalnya saya menilai
pemerintah harus mengubah arah kebijakan subsidi pertanian
agar ditujukan langsung kepada keluarga-keluarga tani. Selama
ini sistem subsidi masih ditujukan kepada perusahaan penghasil
sarana produksi dan distributor besar baik swasta maupun
BUMN, tanpa disertai pengawasan lebih lanjut hingga ke tingkat
petani. Situasi ini menyebabkan hampir setiap tahun petani
senantiasa mengalami kelangkaan pupuk maupun benih.
8584
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Kebersamaan Ali Syarif dengan pemda, DPRD dan Dandim Sidrap dalam acara panen
perdana sebagai dukungan menuju kesejahteraan petani dan membangkitkan gairah
bertani.
DOK.PRIBADI
Presiden Jokowi melepas ekspor beras Sulsel ke Malaysia. Artinya petani bisa
mendapatkan income lebih besar dengan tingginya permintaan pasar.
Selain itu, harus ada sistem pertanian rakyat berkelanjutan
untuk menjawab kebutuhan teknologi bagi petani kecil. Inovasi
teknologi pada petani ini memiliki beberapa karakter seperti
penghematan input dan biaya, pengurangan risiko kegagalan,
dikembangkan untuk lahan marjinal, cocok dengan sistem
pertanian keluarga tani, dan meningkatkan pemenuhan nutrisi,
kesehatan, dan lingkungan. Demikian juga tidak terjebak
dengan model monokultur.
Sedangkan dari sisi kebijakan distribusi yang ada saat ini,
menurut saya, juga sangat merugikan petani. Dengan serbuan
impor pangan murah, petani kehilangan insentif untuk terus
berproduksi. Bukan hanya petani, rakyat Indonesia secara luas
juga mengalami kerugian dengan sistem distribusi yang ada. Secara
nasional juga pemerintah tidak berdaya menghadapi spekulasi
perdagangan hasil pertanian dan pangan.
Untuk jangka pendek misalnya, ada pengaturan tata niaga
bahan pangan yang dikontrol oleh pemerintah, sehingga
jangan diserahkan kepada mekanisme pasar yang sifatnya
oligopoli. Karena bukan rahasia lagi, pada komoditas tertentu
dimonopoli oleh beberapa korporasi dalam negeri maupun
asing.
Selanjutnya, pemerintah menetapkan harga dasar terutama
untuk kebutuhan pokok yang dapat menutupi ongkos produksi
dan memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga petani.
Harga tidak boleh tergantung kepada harga internasional
karena tidak berkorelasi langsung dengan ongkos produksi dan
keuntungan. Harga harus sesuai dengan ongkos produksi dan
keuntungan petani dan kemampuan konsumen.
Selain itu, perlu dilakukan juga pengaturan ekspor impor
produk pertanian yang disesuaikan dengan kebutuhan dan
bukan dengan melihat keuntungan yang diperoleh. Mengurangi
8786
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
ekspor bahan pangan ke luar negeri dengan menetapkan kuota
dan tidak melakukan ekspor bahan pangan pokok ketika
kebutuhan dalam negeri belum terpenuhi. Melindungi petani
dari dumping produk pertanian luar negeri dengan tidak
mengurangi atau menghapuskan pajak impor.
Berdasarkan hasil keliling saya di beberapa daerah pedesaan
di Indonesia, menurut saya kalangan petani sebenarnya
mendambakan ”kehadiran negara” dalam hal ini. Karena
itu, peran pemerintah, dalam hal ini Bulog sebagai lembaga
yang berperan menjaga stabilitas harga dan persediaan
pangan dalam negeri secara luas harus ditegakkan kembali,
terutama menyangkut bahan pangan pokok seperti beras,
jagung, kedelai, minyak goreng dan gula. Pemerintah harus
berani bersikap melindungi pertanian nasional, jangan terpaku
dengan berbagai perjanjian liberalisasi pertanian.
Bulog sebagai repsentasi negara
bisa lebih aktif menjalankan fungsi
Public Service Obligation, bukan
menjadi lembaga pencari laba.
Kedepan, harusnya Bulog sebagai repsentasi negara bisa
lebih aktif menjalankan fungsi Public Service Obligation,
bukan menjadi lembaga pencari laba. Dengan kata lain, Bulog
harus menjadi lembaga ”penyangga” pangan yang memiliki
kewenangan dan fungsi pelayanan publik.
Kepada aparat penegak hukum, bagi saya, harus mengambil
langkah tegas untuk mencegah terjadinya spekulasi produk
pertanian yang dapat merugikan masyarakat luas. Perlunya
melakukan investigasi dan penyelidikan terhadap kemungkinan
”penimbunan” bahan pangan yang dilakukan oleh para pelaku
bisnis pangan dan spekulan.
Akhir kata, sejatinya pemerintah memperhatikan hal-hal
yang tidak merugikan petani secara langsung (direct) atau tidak
langsung (indirect) seperti ”menggiring” tujuan kebijakan beras
nasional untuk menurunkan inflasi pangan sebagai tujuan
sentral.
l
89
ALI SYARIF LAMBANG
Program Kementan Perlu
Dikawal
B
erbagai program dan kebijakan yang dilakukan oleh pihak
Kementerian Pertanian (Kementan) selama beberapa
tahun terakhir ini patut kita berikan apresiasi yang positif.
Pasalnya, secara bertahap telah terjadi transformasi yang
ditandai dengan pergeseran tenaga kerja pertanian ke usaha hilir
pengolahan dengan nilai tambah yang tinggi, ke sektor industri
dan jasa, sehingga petani yang ada mengelola lahan lebih luas per
individu. Selanjutnya tenaga digantikan mekanisasi lebih eisien
dan ujungnya adalah mereka sejahtera.
Memang, menurut saya, proses transformasi tersebut harus
dikelola dan dikawal dengan baik. Minimal dipastikan bahwa
tenaga kerja yang keluar dari pertanian harus diselamatkan
memperoleh pekerjaan layak, sehingga memiliki penghasilan
untuk dapat akses pangan.
Beberapa kebijakan pemerintah yang sudah on the track
itu meliputi pengembangan industrialisasi berbasis agro
berdasarkan keunggulan komparatif. Di mana Indonesia
Petani
Kawan atau Lawan?
9190
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
harus jaya kembali untuk kopi dan rempah-rempah. Integrasi
aktivitas hulu-onfarm-hilir dibangun berbasis kawasan berskala
ekonomi sehingga diperoleh nilai tambah dan pendapatan
penduduk setempat.
Kedua, memperkuat infrastruktur sehingga memperlancar
arus distribusi dari desa ke kota, di desa dibangun jalan, irigasi/
embung, listrik, telekomunikasi, lembaga keuangan, pasar tani
dan lainnya. Ketiga, industrialisasi di pedesaan akan menyerap
banyak tenaga kerja, sehingga perlu peningkatan kapasitas
SDM menjadi profesional dan produktif. SDM setempat dilatih
menggunakan alat mesin, perbengkelan, jasa dan lainnya
sesuai standar kompetensi.
Lalu keempat, keterbatasan jumlah petani diatasi dengan
mekanisasi. Kementan menyediakan 80100 ribu unit alat
mesin pertanian setiap tahunnya. Dengan mekanisasi seperti
traktor, pompa air, rice transplanter, combine harvester dan
Rice Milling Unit (RMU) terbukti bisa menekan biaya hingga
40 persen, waktu, tenaga, dan menurunkan susut hasil 48
persen dan meningkatkan mutu. Apalagi, dengan penerapan
teknologi mekanisasi inilah, saya menilai, membuat generasi
muda kita bisa berminat terjun ke pertanian dan pedesaan.
Apalagi Pak Mentan Amran Sulaiman telah bertekad
menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan Dunia pada
2045.
Namun fakta di lapangan yang saya temukan, berbagai
program dan kebijakan Kementan tersebut belum berjalan
optimal karena beberapa jajaran di level menengah dan bawah
instansi pemerintah itu yang belum mampu ”menerjemahkan
dalam prakteknya, sehingga belum terasa signiikan
pengaruhnya terutama bagi peningkatan kesejahteraan petani
di pedesaan.
Oleh karena itu, menurut saya, perlu dikawal dan dikelola
dengan baik program dan kebijakan pemerintah tersebut guna
memastikan berjalan dengan efektif, terarah dan tepat sasaran.
Selain itu juga sosialisasi ke level bawah masyarakat harus
gencar dan masif sehingga bisa di implementasikan dengan
baik oleh petani kita.
l
Perlu dikawal dan dikelola dengan baik
program dan kebijakan pemerintah
guna memastikan berjalan dengan
efektif, terarah dan tepat sasaran.
93
ALI SYARIF LAMBANG
Ayo Bertani!
B
anyak negara di belahan dunia ini yang ingin
mengembangkan sektor pertanian mereka dan membuat
masyarakatnya bisa bertani. Namun kenyataannya, tidak
semua negara tersebut bisa mewujudkan keinginan mereka.
Selain mereka tidak mempunyai lahan yang memadai atau
juga mungkin faktor tanah mereka yang kurang subur sehingga
tidak bisa bertani secara maksimal. Sementara di Indonesia,
tersedia hamparan lahan yang luas nan subur sehingga sangat
potensial dikembangkan sebagai areal pertanian. Seperti syair
lagu grup band Koes Plus, tongkat kayu pun bisa jadi tanaman.
Aktivitas bertani, menurut saya, bukan hanya sekadar
kegiatan menanam padi seperti pembahasan sebelumnnya.
Tapi bagaimana kita bisa melakukan aktivitas menanam yang
sesuai dengan komoditas yang tepat pada kondisi lahan yang
sesuai. Dengan demikian kita pun bisa mendapatkan dua
manfaat, yakni hasil bertani untuk keperluan konsumsi serta
usaha dan bertani untuk memberikan makan kepada jutaan
manusia, terutama penduduk di perkotaan.
Namun makin hari saya mengamati pelaku usaha bertani
Petani
Kawan atau Lawan?
9594
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Pengurus Komunitas Petani Padi Produksi Sepuluh Ton (KOPPAST) wilayah Sidrap.
di tanah air kita, masih didominasi oleh kalangan orang yang
berusia paruh baya alias generasi tua. Lalu, ke mana generasi
mudanya? Fenomena tersebut juga membuat kita merasa
prihatin, terutama dalam keberlangsungan aktivitas bertani di
tahun-tahun selanjutnya.
Semakin menurunnya motivasi bagi pemuda/remaja
terlibat dalam usaha tani, karena bertani dianggap pekerjaan
rendahan. Padahal, kita sama-sama tahu, bahwa pemuda
adalah merupakan tulang punggung daerah, sementara daya
tarik menjadi petani masih menjadi masalah bagi para sarjana
pertanian/pemuda tani dewasa ini.
Dalam memaksimalkan gerakan moral berupa ajakan ”Ayo
Bertani” saya menawarkan solusi strategis dengan mendorong
pertanian dengan mekanisasi dan modern, serta menjadikan
pertanian sebagai usaha yang menguntungkan dan bergengsi
dengan teknologi yang bertaraf internasional. Dengan
demikian, diharapkan kalangan Pemuda kita dan para jebolan
sarjana pertanian bisa tertarik menjadikan bertani sebagai
profesi atau pekerjaan yang membanggakan.
Keterbatasan jumlah petani yang terjadi, saya menilai, dapat
diatasi dengan mekanisasi. Karena itu saya apresiasi apa yang
telah dilakukan Kementan di bawah Amran Sulaiman, dengan
menyediakan 80100 ribu unit alat mesin pertanian setiap
tahunnya. Dengan mekanisasi seperti traktor, poma air, rice
transplanter, combine harvester dan Rice Milling Unit (RMU)
terbukti bisa menekan biaya hingga 40 persen, waktu, tenaga,
dan menurunkan susut hasil 48 persen dan meningkatkan
mutu. Teknologi mekanisasi semacam inilah membuat generasi
muda kini berminat untuk terjun ke pertanian dan pedesaan.
Apalagi di berbagai daerah sudah pernah kita dengar kabar
bahwa sejumlah mantan pegawai, eksekutif di perusahaan
9796
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
swasta, profesi lainnya, bahkan ada mantan staf World Bank
dengan gaji menggiurkan rela ke luar dari ”zona nyaman” itu
dan memilih menjadi petani di Aceh, kampung halamannya.
Selain itu, menurut saya, pemerintah harus mendorong
industrialisasi di pedesaan karena akan menyerap banyak
tenaga kerja. Untuk itu, perlu peningkatan kapasitas SDM
menjadi profesional dan produktif. Bagi SDM setempat bisa
dilatih menggunakan alat mesin, perbengkelan, jasa dan
lainnya sesuai standar kompetensi.
l
Bertani bukan sekadar menanam
padi, tapi menanam sesuai komoditas
yang tepat pada lahan yang sesuai.
Bangga Jadi Petani
S
emua ciri khas yang tidak dimiliki oleh bangsa lain,
menjadikan Indonesia unik, menyenangkan, dan
seringkali membuat orang lain bahagia. Salah satunya
sebagai produsen komoditas pertanian terbesar di dunia.
Namun di balik itu, sebagian besar penduduk Indonesia
tinggal di perdesaan dengan profesi sebagai petani. Dari hasil
kerja dan tetesan keringat mereka yang ”mengolah” tanaman
padi merekalah sehingga menghasilkan gabah dan beras yang
kemudian menjadi bahan konsumsi setiap hari oleh jutaan
warga yang ada di perkotaan.
Sebagai bahan ilustrasi, di Jakarta misalnya yang dihuni
lebih dari 10 juta jiwa setidaknya membutuhkan 2.500 hingga
3.500 ton beras setiap hari. Di kota ini, nasi disajikan di
warteg (warung tegal) hingga hotel bintang lima. Tak mudah
menyediakan beras di hutan beton yang minim sawah. Tahukah
Anda, kira-kira 95 persen makanan yang ada di Jakarta, dipasok
dari petani perdesaan di Jawa dan daerah lainnya.
Namun dalam praktek tata niaga beras yang terjadi selama
ini cenderung kurang berpihak kepada petani. Tapi lebih
9998
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
memberikan keuntungan pada pihak pedagang dan pengecer
beras yang berhubungan langsung dengan konsumen dengan
memanfaatkan margin harga setiap liter atau kilogram beras
yang dijualnya. Tak jarang kita menyaksikan para pedagang
dan juragan beras yang hidupnya makmur dan menjadi kaya.
Sedangkan petani yang memproduksi padi, nasibnya masih
belum beranjak untuk dikatakan sejahtera.
Salah seorang petani asal Sulsel Muhammad Ikbal ketika saya
tanya apa yang membuat kamu bangga menjadi petani? Beliau
menjawab begini: ...ketika menyaksikan dan melihat baik lewat
media cetak maupun elektronik bagaimana para elite berdiskusi,
berdebat ketika stok pangan mulai menyusut dengan berbagai
pandangan yang saling menuduh dan menyalahkan satu sama
lain. Dari tontonan ini ”saya merasa betapa pentingnya saya
bersama kawan-kawanku sebagai petani.” yang menghasilkan
pangan. kami mungkin masuk golongan miskin tetapi insya
Allah kami tidak kelaparan (petani red.)
Dalam kondisi seperti ini, menurut saya, dibutuhkan
intervensi pemerintah dalam hal membuat program atau
kebijakan yang betul-betul berpihak kepada petani dengan
misalnya membenahi rantai distribusi beras mulai dari tingkat
petani hingga ke pedagang di pasar tradisional maupun modern.
Dengan memangkas panjangnya jalur distribusi diharapkan
tidak terjadinya distorsi harga terutama di level petani. Sebab
sebagai pihak yang mengolah dan memproduksi padi dan
gabah, sudah sepantasnya para petani bisa menikmati income
yang layak.
Nah, melalui kesempatan ini, saya mengajak kepada
pembaca dan kita semua agar bisa menyadari dan memahami
bahwa betapa besarnya jasa dan pengabdian para petani kita di
pedesaan yang dengan jerih payah bekerja untuk memberikan
Diajak petani ke lapangan melihat langsung kondisi tanamannya, ada semangat mereka
ketika padinya sudah keluar malai padi.
Busuk pelepah
Blast / potong leher Bercak coklat
Hawar pelepah
Penyakit Tanaman Padi
101100
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
hasil yang selama dikonsumsi sehari-hari jutaan masyarakat
perkotaan dalam bentuk beras atau nasi.
Oleh karena itu, kita harus memberikan apresiasi terhadap
petani kita yang telah berjasa selama ini. Dan mereka pun harus
bangga dengan profesi mereka tersebut. Kemudian dalam
setiap kesempatan, saya pun kerap menyematkan julukan para
petani Indonesia itu sebagai ”Pahlawan Pangan”.
l
Jakarta butuh 3.500 ton beras setiap
hari. Nasi disajikan di warteg hingga
hotel bintang lima. Tahukah Anda,
95 persen beras di ibukota negara
itu, dipasok petani di pedesaan
Jawa dan daerah lainnya.
Epilog
Catatan
”Pahlawan Pangan”
D
i dalam buku ini saya menuliskan beberapa pikiran
bercampur rasa atas perjalanan saya mengelilingi
Nusantara. Saya melihat, mendengar, merasakan
curhatan petani sebagai ”pahlawan pangan”. Saya berharap
kehadiran buku ini bermanfaat bagi pembaca.
Saya menyadari tulisan dalam buku ini tidaklah sesempurna
yang diharapkan namun demikian rasa dan perasaan sebagai
anak petani yang hidup bertahun-tahun dalam lingkungan
petani terlampiaskan dalam catatan kritis di buku ini.
Seperti kita ketahui bahwa hidup saling mengingatkan,
karena bisa jadi apa yang kita pikirkan sebenarnya telah
terpikirkan pula oleh banyak orang. Dan apa yang kita
anggap masalah petani sebenarnya sudah menjadi pemikiran
pengambil kebijakan negeri ini.
Harapan terbesarnya dari tulisan di buku ini agar pada
tahun-tahun mendatang keberpihakan kepada petani sebagai
”pahlawan pangan” menjadi perhatian kita semua yang pada
103102
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Tentang Penulis
A
li Syarif lahir di sebuah
desa terpencil wanio
kecamatan Pancalautang,
Kabupaten Sidrap, 45 tahun
silam. Ia dibesarkan oleh
keluarga petani, ayahnya
bernama Lambang Basire
dan Ibunda Apsa I Sijo Daeng
Massengngeng.
Ali mulai mengenal Sekolah
Dasar (SD) pada usia tujuh tahun
di desa kelahirannya, SD Negeri
4 Wanio dan tamat pada 1985
dan melanjutkan ke SMP Negeri
Bilokka yang juga masih di kecamatan Pancalautang dan tamat
1988.
Masa kecilnya diwarnai dengan permainan mencangkul di
sawah sejak kelas 4 SD hingga tamat SMP. Lalu, ia memilih
masuk SMTP (Sekolah Menengah Teknologi Pertanian) Negeri
Sidrap sebagai sekolah lanjutannya (kini dikenal SMK Negeri
3 Watangpulu Sidrap). Ia masuk ke sekolah itu dengan niat
memperdalam ilmu pertanian. Meskipun dengan kondisi
keuangan yang pas-pasan, Ali tepat tiga tahun menamatkan
pendidikannya, pada 1991. Walaupun, ijazahnya sempat
tertahan hingga lima bulan karena belum menyelesaikan
seluruh pembayaran sekolah sekitar delapan puluh ribu rupiah.
Maksud hati dan jiwa Ali ingin melanjutkan pendidikan
di IPB, namun apa daya sebagai anak petani penggarap,
akhirnya pendapatan petani menjadi meningkat di ikuti dengan
kesejahteraan petani menuju terwujudnya kedaulatan pangan
nasional.
Terima kasih kepada anda yang setia membaca buku ini
hingga akhir dan terus menanti buku catatan saya berikutnya.
Salam kawan petani!
Ali Syarif Lambang
105104
ALI SYARIF LAMBANGPETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Sulawesi Utara, Gorontalo, dan dua tahun di wilayah Sulawesi
Selatan dan Sulawesi Barat. Dalam masa itu, Ali menyempatkan
waktu untuk menyelesaikan pendidikan strata satu manajemen
di STIE Pelita Bangsa pada 2004.
Ali pun kemudian makin tertarik untuk perdalaman
ilmu tentang manajemen yang pada akhirnya pada 2007
ia dapat menyelesaikan pendidikan program Pasca Sarjana
Magister manajemen pada Sekolah Tinggi Manajemen (IMMI)
Jakarta. Dan pada 2009, PT Syngenta Indonesia memberikan
kepercayaan dan tanggungjawab yang lebih besar kepadanya
dengan posisi Area Manager Wilayah Sulawesi dan Maluku.
Namun pada April 2012, Ali akhirnya memutuskan
mengundurkan diri dan Oktober 2012 ia mendapat tawaran
sebagai National Sales Manager pada PT Advansia Indotani,
sebuah perusahaan agrokimia asal Malaysia hingga sekarang.
Dari seluruh perjalanan karier Ali, lebih dari 20 tahun
berhubungan langsung dengan para ”pahlawan pangan” yaitu
petani.
l
keuangan keluarganya tak mampu lagi. Tanpa pikir panjang,
Ali pun memutuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan
yang bergerak dalam bidang pertanian. Alhasil, sejak 1992
hingga 1995, Ali bekerja sebagai Aplikator/Field Assistant pada
perusahaan asing Ciba-Geiy tepat setahun setelah tamat.
Kemudian jenjang kariernya berlanjut antara lain
menggendong alat semprot untuk aplikasi produk perlindungan
tanaman kepada ribuan petani selama 4 tahun. Berlanjut tahun
19952001 perusahaan Ciba berubah menjadi PT Novartis dan
kemudian pada 2001 menjadi Syngenta dengan jabatan yang
berbeda sebagai Sales Representative, namun pekerjaan dan
aktivitas yang sama, yaitu bertemu petani dalam wilayah kerja
Kabupaten Sidrap, Pinrang dan Enrekang (Sulawesi Selatan).
Lalu, dengan penuh keberanian, pada 1996, Ali memutuskan
untuk menikah dari hasil tabungan sendiri dengan seorang
wanita idamannya asal Arasoe, Kabupaten Bone (Sulsel)
bernama Sri Wahyuni Sunusi. Kini, ia dan istri telah dikaruniai
empat orang anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan, yakni Makmur
Delyval Wahyu Syarif (alm), Shavirahasanah Syarif, Ilham
Wahyu Syarif, dan Adzan Wahyu Syarif.
Karier terbaik yang Ali impikan adalah menjadi agronomis
yang pada awalnya ia sendiri sebetulnya tidak yakin dengan
posisi itu karena perusahaan telah membuat rambu bahwa
untuk posisi itu harus sarjana pertanian. Syarat itulah
”menghantui” dirinya sehingga berpikir hanya ada dua pilihan,
yaitu kuliah agar bisa jadi sarjana atau mengubur dalam-dalam
impian tersebut.
Pada 2001, sebuah harapan yang tak pernah lagi terpikirkan,
jabatan Agronomist diberikan kepadanya dengan aturan
sarjana pertanian kala itu tidak berlaku dan posisi ini selama
sembilan tahun ia jalani, dengan tujuh tahun di wilayah
106
PETANI, KAWAN ATAU LAWAN?
Referensi
BPS, INDEF, Kompas.com, Detik.com, Republika.co,
Kompasiana.com, Katadata.co.id, Tempo.co, Republikaonline.
Fajar online, tribun-timur.com